The Union—Part 3

The following day was Sunday, no one should be in the headquarter except for all the assigned engineers, I was not one of them. Kosygin had fulfilled my wish to meet me, saying, “I also had something to say to you.”

It was a rainy Sunday. Kosygin was late, the black coat he was always seen wearing was drenched. I saluted as soon as I saw him. “I’m sorry,” he apologized. “I had to run an errand beforehand.”

I knew he was such a busy man, it was an actual honor for me to have a meeting appointed with him. “Sir,” I started. “The matter I am about to talk to you—“

“I know, I know,” he said. “This is about Colonel Yuri Gagarin. He is also what I want to discuss with you. But Colonel, one problem: I am in no position to abort the mission.”

“But Sir, you are my—our last hope. The KBG wouldn’t lend us a hand. They, in fact, had brushed off all the lending hands available.”

Kosygin shook his head, “Unfortunately Colonel, I couldn’t be of a better help.”

“Nothing?” I pleaded, and he weakly shook his head again. “He is, a nation’s pride, will be killed in ship of thousands of errors, and you, Sir, with all due respect, a high officer couldn’t be of a better help? Is this how this nation’s treat their heroes? Nothing?”

He looked just as stunned as I did. I didn’t expect to spit all of the things I just said into his face. “I, I’m sorry, Sir,” I apologized. “I didn’t mean to—“

“No, it’s fine, it’s fine,” he fixed his way of sitting. “I get it. Your best friend is dying and you want to do something about it. I get it, you were the one who told him about the thin chance of him going back to earth safely. It was what I wanted to talk about to you.”

“About that—“

“No, Colonel, it’s fine,” he cut. “I knew it was definitely you who told him such information. And the fact that I am fine with it—this meeting is an absolute secret.”

“Thank you for your understanding, Sir,” I bowed to him. “And I might be rude for asking more but… I have a special request to make, Sir.”

“And what is that?”

I paused for a moment, making sure of my upcoming decision, “I request to be the replacement of Colonel Yuri Gagarin.”

He nodded, seemingly relaxed and not as tense as before. “I knew you would say that,” he said. “But Colonel, I’m still in no position to make any change. Besides, I thought you were medically unfit.”

And just before I let out another sigh of distress, Kosygin stated, “although I could propose you to be the backup pilot instead. But one thing that concerns me: you are medically unfit, Colonel.”

“Yes, medically unfit twice for training, but I am a prodigy, Sir,” I said proudly. “I have grown stronger, I have undergone medication, also I have flown the Voskhod- 1 if you remember, Sir. My health will not be a concern, if…”

“If?”

“If I will be dead in the end.”

It was settled, Kosygin agreed Soyuz-1 needed a ‘less-important’ pilot. But in spite of that, he had still been worried of me, I was a great pilot, too. But I told him to be rest-assured, “there is chance of living. I will help check on Soyuz-1.”

“Colonel Komarov,” he called me before I was about to leave. “Why are you doing this? Why are you sacrificing yourself, just for a friend?”

“That’s Yura,” I said. “And he’ll die instead of me. We’ve got to take care of him.”

Little did he know, a tear slipped down my eye. There was a bit, a tiny bit, piece of fear that was left in me.

The Union—Part 1

“Colonel Yuri Gagarin, please head to the main office immediately. We repeat, Colonel Yuri Gagarin…”

            The woman’s voice that echoed throughout the headquarter had always been an annoyance, at least for me. It was no more than because my name was the one thing to never be mentioned. My rank maybe was the same as Yura’s, but we were not the same after all.

Continue reading

Jangan Lama-Lama

Selamat jalan, Sayang,

Jumpa kita yang barang sepotong

Akan kembali terpotong

Oleh matamu yang menyaksikan matari

Di ufuk kiri Australi,

Juga kulitmu yang tersengat api.

 

Di langit Queensland,

Apa ada wajahku?

Terkenangkah kamu?

 

Jangan berlalu lama, Sayang,

Bahwasanya aku tak kuasa menunggu

Segeralah kembali,

Agar kelak kita dapat memadu cinta

Yang telah lama kutunggu.

 

 

 

Cerita Calon Arang: Camilan Tepat untuk Calon Penikmat Sastra

          Di kelas, saya sering dipandang sebagai ‘calon sastrawan’. Padahal saya lebih ingin dilihat sebagai seniman, sebagai pelukis. Tapi hobi saya yang itu tak begitu baik rupanya, sehingga yang dipandang terus adalah tulisan-tulisan saya (yang juga sebenarnya tak begitu baik). Lalu suatu hari ada kawan saya datang menghampiri minta diberi saran bacaan bagus, berbobot sastra. “Kan kita anak bahasa,” kata dia begitu. Tapi dia minta, supaya tak berat-berat dahulu. Jangan langsung disodori bahasa plitat-plitut, bisa gila dia, katanya. Lama saya pikirkan apa yang cocok buat ia: bacaan ringan yang menghibur, tapi tetap sarat akan makna estetis sastra murni (bukan abal!). Lalu tiga hari lalu, saya pinjam buku di perpustakaan—Cerita Calon Arang judulnya. Continue reading

Risalah Namamu

            “Kita jangan bicara lagi.”

            Dia berkata begitu. Bagaimana? Kami baru bertemu 2 jam?

            “Mengapa?”

            Dia terdiam. Wajahnya wajah yang sama manisnya, yang kulihat dua tahun lalu. Yang kuimpikan dan dambakan selama ini. Sama juga—tanpa senyum. Mungkin ia simpan sendiri, mungkin ia lebih nyaman menyakiti semua orang dengan belati congkaknya. Mungkin juga ia sembunyikan sesuatu di balik itu. Mungkin juga… Mungkin. Aku tak pernah tahu, dan aku tahu aku tak bakal tahu.

            “Saya telah baca puisi-puisimu tentang saya.”

            “Sudah? Darimana? Bagaimana kamu tahu puisi-puisi yang kamu baca itu dari saya? Terlebih tentangmu?”

           “Ya, seorang kawan memberitahukan kepada saya. Dalam puisi-puisi itu nama saya sering sekali disebut. Kamu pernah bilang kamu menyukai nama saya.”

            “Tak berarti itu kamu. Tak ada yang menyuruh namamu sebegitu bagusnya. Namamu bukan spesifikasi akan suatu subjek tertentu, bukan kamu. Namamu itu muncul dalam KBBI. Namamu itu luas sekali artinya. Namamu dapat kupakai sebegitu seringnya dan seringpun artinya tetap bukan kamu… Saya, saya…”

            Tanpa sadar aku telah menitikan air mata. Ini adalah sebuah perpisahan, yang akupun tak inginkan. Dan tak oleh siapapun mungkin, kecuali saja oleh ia, orang yang sedang berhadapan denganku.

Ia terlihat bingung dan kelabakan. Mungkin aku perempuan pertama yang menangis depan dia. Tapi aku tidak mau menangis, menangis berarti lemah. Aku bukan perempuan lemah, air mata yang telah turun buru-buru aku seka. Lagipula aku jelek ketika menangis.

Kemudian sebelum dia bicara apa-apa lagi, aku memotongnya.

“Puisi itu bukan tentangmu.”

“Jadi benar, kamu yang tulis,” Ia menyimpulkan. “Puisi-puisimu bagus. Ada kawan saya yang juga suka menulis puisi. Saya bisa kenalkan ke kamu kalau mau.”

“Tapi kan kamu tahu, bukan kawanmu yang saya inginkan,” tepis saya.

“Kamu belum kenal dia. Dia jauh lebih ganteng, cerdas, bertalenta…”

“Aku kenal dia siapa. Dia kawanmu yang lebih ganteng, cerdas, dan bertalenta. Tapi bukan dia yang aku tulis. Bukan dia. “

“Berarti puisi-puisi itu tentangku kan?”

Aku kalah telak. Kekalahanku aku yang tuliskan sendiri di dahiku. Aku salah bicara, kata-kataku yang membunuh diriku sendiri. Sudah terlanjur, kata Ibu melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Kalau sudah basah, mending kuyup sekalian. 

“Ya memang, itu tentangmu. Perasaanku padamu, yang meluap-luap dan yang tak bisa kusampaikan itu, kutumpahkan semuanya di sini. Di lembaran-lembaran bertuliskan namamu ini.”

“Tidak adil,” kataku lagi.

“Padahal telah saya impikan mengatakan ini sendiri. Bahwa ini semua mengenaimu. Dalam mimpi saya itu, kamu tertawa. Menertawai aku yang begitu naif, lalu kita kembali jalan bersama. Bergandengan tangan. Dalam mimpiku, semua yang kulakukan diam-diam ketika mencintaimu, kunyatakan semua padamu, setelah kita bersama. Bagaimana perasaanku pertama kali melihatmu, aku benci padamu sekali dulu, tapi juga kamu tak bisa keluar dari pikiranku. Betapa di kali kedua kita berdua bertemu, dalam keramaian yang sumringah, aku hanya dapat memerhatikanmu. Lalu puisi pertamaku tentangmu, yang isinya kehancuran hatiku. Yang menerka bahwa kita tak akan pernah mengenal, tak akan pernah bicara. Kita tak akan pernah bertemu lagi. Terkaan yang salah, karena nyatanya apa? Kita berbicara sekarang, berdua, bertatap mata. Lalu ketika aku bertemu lagi denganmu, di tempat yang beda, di sekolahmu, setahun setelahnya. Lalu kegundahan yang kurasakan selama dua hari hanya untuk mencoba menyapamu, sampai-sampai perutku sakit itu. Sampai pada hal yang tak tampak di mimpiku, seperti kamu yang mengenalku, dan kamu yang membenciku. Tapi… Begitupun riuh ceritaku, begitupun kompleks dan tak beraturan membuat bingung dan ngeri, di mimpiku itu, di akhir cerita kamu tetap tertawa. Kamu menertawai aku, dan kita tetap bersama.”

Bayangan ia meninggalkanku semakin dekat dan aku menangis lagi.

“Boleh saya minta sesuatu padamu, sebelum kamu pergi?” tanyaku sambil terisak.

“Tolong tertawakan saya.”

Siapa Menyalah Siapa Bersalah

Air-airnya jatuh berkat samudra yang melubangi telungkup
Telah lolos tetapi masih memberi senyum yang berkabur-kaburan
Tapi sebetulnya bukan karena bocor, air-air itu kembali jatuh
Namun berkat gerigi-gerigi duri dan gigi yang menerkam putri
Berkobar membakar jadi api
Tolonglah tolong,
Baginda bukan dewi hanya seorang putri.

Asas Mencinta Dalam Kuantitas

​Dibatas samudra yang berbeda

Tapi dinaung langit yang sama

Hanya gemintang yang tak setara

Lalu bagaimana?
Manusia yang dikotak-kotakkan jarak,

Padahal juga sama terikat

Oleh oksigen, gravitasi, lalu harkat

Dan merasa Tuhan itu ada,

Tapi tetap serat bersua
Saya nafas di sini,

Kamu tahu?

Di antara massa yang memekik di telinga,

Aku salah satunya
Ini memang cinta kedap suara

Saya sih tidak apa-apa

Cuma tolong jangan cinta lain wanita

Bikin saya sakit mata dan dada

Ini dibuat waktu saya dalam perjalanan ke sekolah (naik ojek) tahun lalu. Kebetulan sedang bongkar-bongkar folder nilai kelas 2 dan ketemu kertas bertuliskan puisi ini yang dibuat untuk pelajaran sastra Indonesia.