Mungkin Cuma Kurang Pintar

Saya mulai menulis ini karena saya baru mulai membaca Si Parasit Lajang-nya Ayu Utami. Teknisnya mulai kemarin, tapi hanya pengantarnya.

Sebab teman saya, Syilla, ribut ngajak berbincang. Dia berceloteh tentang apa saja; cowoknya (maksud saya, laki-laki gemuk yang tidak begitu dia kenal), anu (julukan orang yang kami sama-sama benci), dan juga anu-anu (orang yang juga kami benci).

Kalau anda-anda belum baca apa itu Si Parasit Lajang, pokoknya berasal dari catatan hariannya Ayu Utami. Tapi karena tulisan saya macam tulisan kodok (lah, mereka mana bisa nulis?) saya ketik rasanya cukup juga.

Saya ini (sepertinya) masih bocah, baru kelas 2 SMA. Kebetulan Ayu Utami itu ternyata juga senior saya, berapa belas tahun yang lalu. Ibu saya juga. Saya mengambil jurusan bahasa – satu jurusan yang tidak banyak orang tahu; sekali-kalinya tahu langsung bercokol dengan gagasan bahwa kami adalah murid-murid buangan. Stereotip tolol semacam itu sudah jadi lauk pokok keseharian kami.

Tapi bukan saya bilang kelas kami memang tidak bodoh. Mungkin bukan bodoh, ya, cuma kurang pintar menyiasati soal. Ulangan Bahasa Indonesia kami sekelas remedial (kecuali saya), ironis ya?

Saya juga bukannya mau dibilang pintar. Kecerdasan sama relatifnya dengan kecantikan dan adjektiva lainnya, lantaran pangkat cerdas itu hanya terbentuk dari spekulasi manusia akibat angka rapor dan ulangan yang kebetulan saja tinggi. Bodoh juga rasanya kalau kecerdasan itu dinilai dari tinggi rendahnya ranking kelas. Masa ikan disuruh manjat pohon, ya ndableg.

Teman-teman saya pintar kok, kata guru-guru kami jago bacot, teriak-teriak, dan debat. Hebat, kan?

Menurut saya Bahasa itu tingkatannya lebih tinggi dari ilmu paspal. Bukan meremehkan anak IPA dan IPS, bukan juga saya bilang begini karena saya anak Bahasa yang otaknya jongkok dalam bermatematika. Ini cuma pembelaan kecil-kecilan, diabaikan juga tidak apa-apa.

Cuma, IPA dan IPS butuh Bahasa untuk menyampaikan materi (kalau tidak, itu guru geografi dan fisika mesti jingkrak-jingkrak menjelaskan). Tapi Bahasa toh tidak butuh IPA dan IPS untuk bersastra. Bahasa bukan ilmu pasti, dalam sastra satu tambah satu bisa jadi tujuh. Bumi bisa jadi inti surya. Bukan langit batasnya, bukan juga bimasakti—hanya imajinasi si pengarang.

Paspal punya rumus, jawabannya pasti, wong namanya juga paspal. Nenek-nenek keriput kalau tahu jalan juga bisa pulang. Namun ada seribu gang menuju sastra, tiap-tiap orang punya dan bisa buat gang sendiri.

Namun ya itu, kita masih hidup di lingkungan yang masyarakatnya beranggapan bahwa orang pintar itu yang ranking satu; yang matematikanya seratus terus. Saya sih orangnya positif. Kalau nilai matematika dapat empatpuluh, berarti kan setidaknya saya benar empat jawaban dari sepuluh pertanyaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s