Fem dan Seks

Beberapa bulan setelah pertama kali menduduki bangku SMA, saya beserta satu kawan saya mendeklarasikan diri sebagai ‘feminis’. Kami setuju sekali kalau masih banyak hak kaum hawa yang tidak setara dengan kaum Adam, seperti mungkin larangan poliandri oleh wanita (iya, saya tahu alasannya).

Gagasan itu kemudian ditepis kawan saya yang lain. “Itu seksis,” sebutnya. Tentu saya kesal; “feminis itu lain dari seksis,” bela saya.

Tapi karena internet saya lancar, saya bebas membaca artikel-artikel yang bebas pula sifatnya. Lalu setelah saya rasa cukup artikel yang say abaca, saya mulai menarik kesimpulan, yang entah terlalu dini atau naïf:

Kok feminisme itu rasanya salah ya.

Feminis-feminis ini bukan sedikit yang melawan arah jalan Tuhan (maaf saya bukan atheis). Mereka menolak perkawinan, karena itu sekadar pengesahan untuk para pria agar bebas mencabuli dan menyiksa perempuan. Lalu mereka lebih memilih cinta antar wanita demi sama-sama senang dan sama-sama puas. Tak berhenti di situ, merekapun mulai menjelek-jelekkan para lelaki. Yang membuat saya, lagi-lagi, berpikir:

Niat mereka adalah menyetarakan jender. Tapi jender yang menjadi tolak ukur direndahkan diinjak-injak, bukankah itu berarti standar penyetaraan bagi wanita turut jatuh?

Mereka sibuk mengatakan bahwa wanita bebas berpakaian model bagaimanapun tanpa harus dicap sebagai wanita apapun. Dan yang harus mengekang nafsu adalah laki-laki, sehingga itu bukan menjadi problem perempuan. Sedang menurut saya, laki-laki memang diciptakan sepaket dengan napsunya (wanita juga begitu), sudah kodrati. Jadi harusnya si perempuan yang tahu diri, tanpa sedikitpun merendahkan derajat wanita, ya. Nah kalau sudah tertutup tapi masih diperkosa, baru itu laki-laki bermasalah. (Yang akhiri saja dengan sebuah tendangan di selangkangan, seperti kata Nenek saya.)

Tapi beranggapan begitu sebetulnya tidak salah juga. Sebab kan opini orang beda-beda, pun begitu dengan saya. Ide feminisme di benak saya itu memang untuk menyetarakan. Jadi satu jender tidak diwajibkan untuk piawai dalam sesuatu sedang jender yang lain bebas urak-urakan.

Jadi sering kan orang tua (dan muda) mengomentari putrid-putri mereka dengan stereotip yang tak asing di telinga,

“Perempuan itu harus bisa masak dan menjahit.”

Lagi: “Perempuan itu harus mampu membersihkan rumah!”

Kemudian ini: “Perempuan itu harus rapi!”

Biasanya kalau diberitahu dengan cara itu, saya makin tidak bergerak. Atau saya balas balik:

“Loh, kan saya tidak minta jadi perempuan?”

Mampu-tidaknya seseorang dalam melakukan sesuatu bukan seharusnya dilihat dari jender yang cuma dua itu; kalau wanita harus rapi dan laki-laki boleh berantakan dan dimaklumi. Malah rasanya aneh kalau ada laki-laki yang lebih rapi dari perempuan.

Saya harus bisa melakukan apa-apa itu sendiri, entah saya laki-laki atau perempuan. Karena saya tidak bisa selamanya jadi benalu Ibu saya. Saya pasti, di suatu titik dalam hidup saya, akan harus tinggal sendiri.

Jadi tolong, jangan paksa saya menjahit dan menjadi rapi mentang-mentang saya perempuan. Jangan larang saya teledor dan sembrono hanya karena saya perempuan. Stereotip murahan begitu tidak mempan sama saya, tahu.

Namun begitu saya tetap sejalan dengan Agama saya, dengan Tuhan. Kalau Hawa itu diciptakan setelah Adam, kalau Adam itu imamnya Hawa. Saya tahu kalau wanita diciptakan dari tulang rusuk pria; berarti kan mereka melengkapi satu sama lain. Di mata Tuhan memang semuanya setara dan sejajar, tidak ada yang namanya superior dan inferior. Cuma manusia, yang lagi, terus mengkotak-kotakkan segala sesuatu.

Lalu kenapa laki-laki yang jadi imam, kalau semua sejajar? Bukankah itu berarti ada sosok pemimpin yang in charge? Loh, itu kan dalam bahtera rumah tangga. Bahtera tanpa nahkoda bakal terombang-ambing di laut, lalu tenggelam, dan semua awaknya ikut mati. Sebetulnya nahkoda dan awak itu juga sejajar, saling melengkapi. Tanpa awak, nahkoda tidak memimpin apa-apa. Tanpa nahkodapun, awak tidak terorganisir. Dan sebetulnya, dalam perumpamaan maupun dalam konteks sebenar-benarnya, seorang nahkodapun pernah menjadi awak dalam suatu bahtera lain. Jadi menurut saya sih, tidak ada yang superior dari hubungan awak-kapten ini.

Yah tapi saya tekankan lagi: opini orang berbeda-beda, jangan selalu mencekoki opini Anda ke orang lain. Kadang-kadang boleh, sebab hidup ini bukan melulu lomba debat. Tapi saya, karena saya manusia, kembali megkotak-kotakkan jenis feminisme yang satu dengan yang lain. Simpel kok. Yang satu adalah jenis macam saya dan kawan saya, feminis tok. Satu lainnya adalah feminis akut, yang ini, kalau tidak hati-hati, bisa menjurus ke tahap selanjutnya: seksis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s