Saya Masih Hidup; dan Ocehan Tentang Bakat.

Sudah hampir sebulan saya tidak menulis (tidak di sini dan tidak di manapun), berarti hampir sebulan juga kepala saya cenat-cenut mau gila.

Besok (yang tinggal beberapa menit lagi ini) adalah hari pertama dari pekan liburan—sebuah upah dari sekolah dan mentri pendidikan atas segala kerusuhan batin yang dilimpahkan kepada kami kira-kira enam bulan lamanya (belum dikurangi hari saya bolos, yang lumayan banyak).

Tidak banyak, saya belum ada tulisan baru. Seperti tujuan blog ini, tulisan yang inipun dibuat asal-asalan sekadar untuk mencegah Alzheimer dan penyakit pikun lain. Saya tidak begitu peduli dengan konten, mau ofensif atau apa, yang penting kan nulis. Hehehe.

Saya sedang kurang motivasi, sebab sekarang kalau melakukan apa-apa pasti gagal terus—kebanyakan sih putus di tengah jalan. Karena saya berpikir, “Ah, tidak sesuai ekspektasi.” Lalu saya tinggal dan saya stress sendiri. Gambarpun sudah tidak mood lagi. Artblock, sebutannya begitu. Art block adalah situasi saat sang seniman tidak dapat menggambar, entah itu tergantung mood atau ide. Kebanyakan orang saat mengalami art block, adalah kekurangan ide, tidak tahu mau menggambar apa. Kalau saya, ide bejibun tapi tiba-tiba skill hilang. Nah, jika saya sudah mengalami art block, gambar garis lurus saja tidak bisa (tapi memang susah loh!). Saat-saat seperti itu biasanya saya akan guling-gulingan di kasur dan merutuki diri sendiri. Benar-benar mau gila.

Pelarian saya dari menggambar ada tiga: menggambar (kalau masih memungkinkan), menulis, dan menyanyi. Biasanya talenta saya ini berganti-gantian: saat saya mengalami art-block, tulisan saya atau suara saya tiba-tiba membaik. Serasa bisa selamanya melakukan itu-itu saja. Begitupun kebalikannya. Pokoknya tiga hal itu diputar-putar saja. Gambar bagus, tulisan dan suara jelek. Tulisan bagus, gambar dan suara jelek. Suara bagus, gambar dan tulisan jelek. Ada juga saat muka, suara, gambar, dan tulisan tidak ada yang bagus. Itu sih derita, ya.

bb
Gambar terakhir yang masih ada bentuknya.

Omong-omong soal talenta!

Sedang hangat diperbincangkan oleh lingkungan sosial di sekitar saya. Kala itu saya menginap di rumah seorang sahabat yang merangkup sebagai kakak. Dia baru tiba dari Australia, liburan juga. Bedanya dia liburan dua bulan saya liburan dua minggu.

Sekilas info, saya dan dia dekat sekali sampai benar-benar dikira saudara. Walaupun jarak usia terpaut dua tahun, mental dan selera masih anak bocah. Dia bercerita, kalau neneknya baru kemarin bilang, “Kata Papamu (mama dan papanya sudah bercerai, ini kata nenek dari mamanya), kamu itu nggak bakat di musik. Kamu itu berhasil cuma karena tekun.”

(O ya, dia mengambil double degree musik dan psikologi. Sebelumnya juga kuliah di Sekolah Menengah khusus musik.)

Saat mendengar itu, jantung saya mau keluar dari mata. Saya, walaupun cukup sering menggunakan kata ‘talenta’ dan ‘bakat’, sebenarnya skeptis dengan kedua kata itu. Saya memercayai di dunia ini tidak ada yang namanya ‘talenta’ dan ‘bakat’, yang ada cuma usaha.

“Kamu itu berhasil cuma karena tekun,” katanya. Salah! Yang betul adalah: “Karena tekun kamu berhasil”!

Begini, kalau masih tidak mengerti:

Murid A adalah seorang murid ‘berbakat’ dalam menyanyi, tapi karena sering dipuji orang karena ‘bakatnya’, murid A jarang sekali latihan. Sedangkan murid B, adalah seorang tanpa ‘bakat’ menyanyi. Tapi karena ia cinta menyanyi, maka ia semangat dalam menekuninya: pagi-malam dia latihan. Dengan begitu, murid A tidak akan melampaui murid B kecuali dia mau berlatih.

Kedua kalinya topik ini dibahas adalah di facebook baru-baru saja.wtf

Respon pertama saya?

What the fuck.

Saya masih abakat, skeptis soal bakat. Hehehe. Kenapa?

Bakat, menurut saya, hanya masalah kecepatan seseorang dalam memahami sesuatu. Itu saja yang membuat perbedaan. Tapi bukan berarti dengan ‘bakat’ ini semua jadi mudah, kan. Orang berbakat yang tidak latihan itu ya tadi, tidak ada gunanya. Kalau para orang ‘tidak berbakat’ ini memang ‘mau’ memahami atau menjalani sesuatu, dengan usaha, mereka juga pasti bisa—walaupun tidak secepat orang-orang yang ‘berbakat’ tadi. Jadi kalau kamu berbakat tanpa usaha, nggak akan berhasil. Tuhan saja bilang, barengi doa dengan usaha. Kamu mau cuma bakat berdoa?

Yang terakhir adalah waktu pengambilan rapot kemarin. Guru saya berapi-api sekali dengan pencapaian saya, dan mencoba memotivasi saya dengan cara pedas.

“Kamu itu sama yang ranking dua cuma selisih 0,05,” katanya dengan cepat, menambah intensitas pengadilan ekspres itu. “Sedikit sekali! Kamu itu BAKAT pintar, kalau yang ranking dua modal tekun. Jadi kalau blablabla ya blablabla.”

Awalnya saya berpikir, halah, ranking itu apa pentingnya. Cuma sekadar angka. Kalau saya ranking satu lalu langsung jadi milyarder, baru saya mau. Tapi kemudian saya merenung sejenak, mungkin bukan itu poinnya. Saya sendiri yang bilang skeptis tentang bakat, tapi saya sendiri orang ‘berbakat’ yang ‘tanpa usaha’ itu. Jadi saya tidak akan berhasil karena saya terlalu sombong (sebenarnya terlalu malas dan cuek, sih). Saya pikir Tuhan berbicara lewat guru saya itu, supaya kemalasan saya yang luar biasa ini tidak berlanjut ke depannya nanti.

Walau begitu, saat mendengar kalimat, “wah, kamu berbakat sekali!”, saya masih agak risih. Mungkin orang ‘berbakat’ yang ‘berusaha’ lain juga begitu. Seolah kata bakat ini membuat segalanya menjadi mudah dan merenggut semua kerja keras yang kami keluarkan. Seolah kami berhasil hanya karena bakat ini, padahal pedang yang tidak diasah tidak bisa menebas apa-apa.

Jadi tolong, pujian berbau ‘bakat’ itu dihapuskan saja demi prikemanusiaan dan prikeadilan, ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s