Selera Anda yang Jelek!

            Saya sedang agak menyangsikan satu hal, namun tetap Saya pendam dalam hati. Hal ini tentu membuat kesal, dan saya dilarang mengemukakannya (oleh diri saya sendiri, lagipula yang bersangkutan terlalu bodoh untuk mengerti), makanya Saya tumpahkan semua uneg-uneg Saya di sini. Awalnya Saya hendak menulis dalam Bahasa Inggris, tetapi kenapa ya, dalam bahasa itu kok kesan ‘marah’ Saya tidak terlalu kentara? Benar kata ibu Saya: marah-marah dalam bahasa sendiri memang paling pol!            Beberapa waktu belakangan, Saya terus merenungi perihal yang membikin emosi ini. Sampai-sampai waktu luang di toiletpun saya habiskan untuk merenung! Saya bukan lagi budak teknologi dengan hape yang mungkin nyemplung!

            Hal mengesalkan ini adalah tentang ‘selera’. Ya, selera. Harusnya Saya tidak perlu repot-repot menulis tentang hal sesepele ini untuk, yah, hitung-hitung menyadarkan masyarakat. Sebab, hal ini menurut Saya adalah sesuatu yang hakiki bagi manusia, hak primordial kita semua: hak beropini.

            Ya, dan punya selera terhitung juga sebagai punya opini!

            Selera itu disalurkan dalam berbagai aspek dalam hidup: selera makan, selera berpakaian, selera dalam memilih pasangan, atau saja selera musik dan film. Bebas, suka-suka manusianya. Saya tidak boleh mengomentari seseorang yang senang berpakaian norak jika hal itu membuatnya nyaman. Toh, dia tidak menyakiti Saya kan—kecuali menyakiti mata Saya pribadi (itupun hanya datang dalam sentimen psikologis dan bukan fisik). Namun ‘norak’, ‘jelek’, dan adjektiva lainnya juga merupakan hal yang subjektif—tanggapan masyarakat dapat menjadi variatif, bukan? Lagi, hal itu dapat dipengaruhi oleh berbagai macam hal: kasta sosial, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Tidak ada tolak ukur nyata dalam hal selera. Selera itu seperti sastra; tak pasti dan mengawang-awang. Tidak ada yang salah dan benar. Tidak ada mengenainya yang rigid.

            Tapi sekarang yang Saya perhatikan, orang-orang mulai menganggap bahwa mereka memiliki derajat sosial yang beberapa tingkat lebih tinggi saat memiliki selera yang ‘bagus’. Bagus menurut ini akan saya ‘terjemahkan’ sebagai hal yang tidak mainstream, tapi kembali ke prinsip dasarnya, sesuai dengan selera pribadi. Lalu karena mereka adalah golongan yang tinggi dengan selera ‘bagus’, mereka dapat menjelek-jelekkan golongan rendah dengan selera ‘jelek’ yang notabene mainstream dan kampungan! Duh!

            Lalu Saya masuk ke kategori apa? Kalau digolongkan berdasarkan prinsip para makhluk suci itu, maka Saya bukan golongan mereka. Selera Saya berkisar jauh dari om-om seram sampai laki-laki (yang sering dianggap) ‘ngondek’ dan senang joget. Kampungan! Mainstream! Over-rated! Alay!

            Selera musik, film, dan buku Saya banyak dikategorikan sebagai kasta rendah olehpara makhluk suci. Dan ini, menyebabkan Saya bukan salah satu dari mereka. Cliché!, begitu katanya.        Walau Saya percaya bahwa tidak ada yang namanya musik jelek. Sebab musik adalah cerminan hati penggubahnya, sama seperti sebuah kisah. Tetapi Saya percaya lirik jelek; melulu soal seks, narkoba, ini, itu. Namun yang perlu diketahui adalah hak masing-masing orang untuk menyukai sebuah lirik yang jelek atau tidak. Apa mereka merugikan Anda secara fisik? Apa mereka meminta bayaran dari Anda? Jika ya, Anda baru boleh berkomentar.

            Ketika Saya mendengarkan pendapat para makhluk suci, Saya cenderung membuka pikiran Saya lebar-lebar dan menganggap, “Ya, mereka juga boleh punya pendapat.” Tapi kala Saya mengutarakan selera dan pendapat Saya? Saya adalah makhluk nista yang butuh verifikasi makhluk suci itu untuk menyukai sesuatu apapun juga! Tuhan, Tuhan, Tuhan!

            Jari Saya bergetar menulis ini. Emosi, kesal, dan hasrat ingin membunuh dilebur jadi satu. Mengapa sih, kita tak boleh hidup dengan prinsip dan selera masing-masing? Mengapa sih, lingkungan sosial harus menciptakan label serta barometer akan hal yang begitu fleksibel? Mengapa manusia begitu repot-repot bersusah payah untuk menyandang gelar ‘unik’, ‘berbeda’, dan ‘keren’? Oya, semua manusia di bumi ini unik. Artinya? Tidak ada orang yang unik, spesial, berbeda—apapun itu! Try basic, if you want to be unique. Tidak ada kan, orang yang bersusah payah menjadi biasa. Justru, di saat semua orang repot-repot jadi berbeda, be basic!

            Lontarkan opini, bukan hinaan. Katakan, “Saya tidak menyukai ini karena bukan selera Saya,” dan bukan, “Saya tidak menyukai ini karena ini jelek.” Bila Anda masih mencerca selera orang lain ketika selesai membaca ini, berarti Saya katakan: selera, hati, otak, dan muka Anda jelek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s