Barisan Kata Tentang Rasa #3

 Selamat malam,

Jej yang sudah lelah.

Bagaimana hari jej yang panjang dan bikin linu?

Sudahkah sendi tua jej aus? Atau otot kekar jej nyeri? Ja, ja, ik mengerti sekali—semoga lekas pulih. Sekadar catatan kecil untuk disangkutkan di ingatan, ik menulis ini dengan derai air mata tertahan di pelupuk; eh jangan salah, nyeri yang mencambuk dada tidak kalah dengan selongsong peluru nyangkut di kepala.

Alasan spesifik, ik juga sebenarnya tidak tahu. Sebab musabab yang pasti positif turut ambil andil adalah jej—dengan segala ketidak acuhan jej terhadap perasaan ik.

E, e, e—bukan ik menyalahkan jej, tidak sama sekali. Menjadi tidak acuh adalah langkah tepat untuk dipijaki. Ik yang salah untuk menanam perasaan, dan bahkan memumpuknya hingga rimbun. Ik seratus persen sadar tidak dalam pengaruh obat-obatan apapun saat memilih jej yang, kalau boleh dibilang, sempurna.

Tidak ada manusia yang sempurna: itu yang ik percaya soal kemanusiaan, seperti yang orang lain juga percaya; paling tidak sebelum ketemu jej. Kalau itu sudah dilakukan maka gagasan seperti itu macam bualan bocah ingusan yang main petasan di depan surau setelah solat isya.

Tapi, ya, tapi,

Ketidaksempurnaan yang jej miliki tidak sedikitpun terpancar dari jej sendiri. Bukan menyoal fisik dan psikis, namun hal nasib serta peruntungan. Seperti kadang ik menaruh iba pada jej yang harus memikul gerobak besar penuh tangungjawab dan diperlakukan semata-mata sebagai pabrik uang. Lalu mimpi-mimpi jej seperti diputuskan benangnya dan terbang mengawang di angkasa, meluntang-lantung tanpa tuan—jej.

Ik memang tidak mampu berbuat apa-apa dan memang tidak berbuat apa-apa, belum, setidaknya. Tapi ik harap tiap riak cinta dari ik, walaupun berbatas jarak tempuh dan usia, akan tetap sampai pada jej. Supaya jej tahu, bahwa masih ada yang tulus mencintai dan menghargai jej di bumi ini—kalau bukanlah tulus katanya, apa sebutan untuk enam tahun penuh mencinta dan menanti bertemu padahal tatapan mata jej tidak menyiratkan apa-apa karena memang tidak ada rasa?

Semoga pula doa yang ik tuturkan dengan menyertakan nama jej dan tentang jej, didengarNya karena ik tahu Tuhan maha adil: buktinya Dia masih membiarkan ik mencintai jej walaupun tidak benar.

Dari si perempuan yang belum disebut wanita.

020116.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s