Barisan Kata Tentang Rasa #4

Selamat pagi dan selamat ulang tahun, mijn lieft.

Juga selamat hidup, syukur kepada Sang Kuasa jej masih bernapas dan baik-baik saja. Maaf, hadiah teruntuk jej dari ik bukanlah sebongkah emas atau tambang permata. Ini hanya sebatas doa yang diharap jadi nyata.

Ik tahu ini teramat sangat terlambat, tapi begitulah halnya dengan surat-menyurat. Tak ada yang tiba dengan waktu tepat. Namun apabila diamat-amat, di dunia ini apalagi yang tidak telat?

Nah, tahukah jej?

Ini sudah detik ke tiga belas juta dua ratus sembilan belas dua ratus kita tak bertatap muka. Rindukah jej kepada ik seperti ik merindukan jej?

Ini juga sudah hampir bulan Juni dan hujan masih tetap turun. Seolah ia mengisyaratkan tempat yang sama dengan ik: melakukan apa yang tak seharusnya dilakukan.

Dan bagi umat Islam, ramadan datang tinggal sedikit lagi saja. Masihkah ada dongkol di dada? Bila ya, maafkan ik yang memang berlebih dosa. Kepada jej, dan terutama lagi pada keluarga jej. Ya, utamanya memang itu.

Tetapi meski begitu, tolong jangan suruh ik mendamparkan jauh-jauh perasaan ik. Tentu ik sadar bahwa ik telah meminta maaf. Tapi perasaan ini tolong jangan turut diminta, apalagi di hina. Ik berencana ingin begini; terus sampai mati meremat hati yang busuk karena rasa tak berarti.

Surat teruntuk jej kali ini memanglah tak terlalu panjang. Biarlah. Biar sendalu yang nanti bicara, toh jej takan pernah tahu surat ini ada.

Dari si perempuan yang belum disebut wanita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s