Tolong, Saya Bingung!

              Puasa ini saya bingung. Tapi bukan bingung mengenai puasa. Tetapi betullah Tuhan itu maha adil: saya hari ini diberikan bahan tertawa yang tiada dua!

            Dimulai dengan selancar singkat di internet, saya membuka sebuah media sosial yang sejuta umat; Facebook. Satu berita di Facebook menggugah saya untuk tersenyum, yang kemudian saya bagikan ulang lewat akun saya. Heh, berbagi tawa itu dapat pahala!

            Berita ini mengenai seorang calon independen gubernur kota saya, yang kalaupun tak saya sebut namanya anda-anda semua pasti tahu. Kabarnya, ia sudah memenuhi syarat untuk maju ke pilkada ini! Jadi toh, masa saya tidak senang? Ibaratkan seperti menonton bola, kalau tim anda boleh ikut tanding dan tidak didiskualifikasi saja anda sudah merasa senang kan? Saya tidak membicarakan menang loh, belum sampai situ. Dan saya juga tidak memaksakan siapa-siapa untuk mendukung opini saya.

          Tapi, dua kawan saya di Facebook ada yang tak senang hati rupanya! Oh, oh, atau lebih tepatnya bukan tak senang hati, tapi tak mengerti opini!  Tapi ya ampun, bukannya Tuhan menyuruh kita untuk turut berbahagia bila orang lain berbahagia?

            Saya ini, tanpa berlagak sok, mungkin termasuk ke kategori orang paling ketimur-baratan. Dalam artian saya membuka pikiran saya menjadi barat, tapi yang saya telan tetaplah yang sesuai dengan budaya timur saya. Sering kali saya ambil jalur netral. Contohnya perihal LGBT. Dalam koin timur saya, sebutlah sektor agama, perihal homoseksual dan embel-embelnya ini bukanlah suatu yang benar untuk dilakukan. Tapi kemudian beralih ke koin barat saya, masa’ saya menggunakan aspek homoseksualitas itu dalam proses penilaian akan seorang individu. Bilakah ia lebih cerdas dari saya, misalnya, lalu dia seorang homoseksual, lalu faktor itu membuat saya harus menutup fakta bahwa ia seorang yang cerdas hanya karena merupakan seorang homoseksual? Dan bila kedua-dua koin ini kita gabungkan, maka hasilnya adalah, siapakah saya,  yang juga manusia biasa dan bukan Tuhan, atau paling tidak orang suci, untuk ‘menghukum’ kaum homoseksual, yang mungkin beberapa di antaranya lebih religius atau berkualitas dari saya?

            Agak melenceng, tapi tidak terlalu. Saya menerapkan pola pikir ini dalam pemilihan pemimpin. Banyak orang di kota saya yang memperdebatkan validasi individu yang non-agama-mayoritas ini untuk menjadi pemimpin kota yang mayoritasnya menganut agama mayoritas itu. Berlandaskan hadits dalam agamanya, seorang penganut agama mayoritas dilarang menjadikan individu yang menganut non-agama-minoritas sebagai pemimpinnya. Tapi mari bukalah kacamata kuda itu dan lihat sekitar, saudara-saudaraku. Ada berapa pemimpin beragama mayoritas yang mencuri uang rakyat, menyeleweng, dan melakukan tindakan-tindakan yang sesungguhnya tidak mencerminkan agama mayoritas yang sebetul-betulnya indah itu? Mengapa aspek agama, yang pada dasarnya merupakan urusan Sang Illahi dan ciptaanNya sendiri, dan bukan siapa-siapa lagi, kita gunakan untuk menutup kenyataan bahwa mungkin sebetulnya orang yang non-agama-mayoritas ini, kinerjanya jauh lebih baik?

            Sudahlah, itu urusan kalian, dan bukan urusan saya. Mari kembali ke pokok permasalahan yang sesungguhnya, yang benar-benar ada hubungannya dengan saya.

            Jadi pagi ini, seperti yang saya jelaskan tadi, saya membagikan ulang sebuah berita di Facebook.

Screenshot (66)
Bonus: display picture Facebook saya.

 

            Lalu kira-kira 2 jam setelahnya, seorang kawan Facebook memberi komentar (yang saya balas dengan ketus itu, tapi kemudian ia hapus. Jadi saya tidak komentar di tulisan facebook saya sendiri, ya!). Kira-kira bunyi komentar itu adalah, “Jangan jadi budak D…L…” Saya lupa apa persisnya dan tidak mengerti, tapi saya anggap itu adalah ungkapan tidak setuju.

Update: Mungkinkah D…L… ini singkatan dari dajjal? Tuhan yang tahu.

            Kemudian tak lama, tak disangka-sangka seseorang kemudian memberikan komentar, dan tak dihapus! (Sampai detik inipun masih ada, walaupun dua orang telah membela saya.)

Screenshot (65)

            Lalu muncul banyak pertanyaan di benak saya, antara lain:

  1. Orang ini nggak ada kerjaan, ya?
  2. Ini akun saya, kan? Bebas dong? Tidak melanggar UU ITE loh?
  3. Kok dibilang kampanye?
  4. Ngapain kampanye lagi, kan sudah memenuhi syarat minimal?
  5. Kenapa kesannya saya yang salah dan menyinggung? Kan tidak ada hubungannya dengan pihak yang memberi komentar itu?
  6. Siapa dia kok membatasi kebebasan berpendapat saya?
  7. Jangan-jangan ini mau kembali ke zaman tirani ya?
  8. Tapi lagi, dia kan bukan siapa-siapa? Mendirikan tirani itu susah loh, apalagi untuk ‘yang bukan siapa-siapa’.

Dan seterusnya, pertanyaan itu merambat terus. Karena sesungguhnya saya bukan emosi, tapi bingung! Nah maka puasa ini saya bingung!

Saya ingin mengomel bebas, menulis essai panjang mengenai kebodohan ini. Menguak lebih dalam bahwa menurut undang-undang saya tidak salah. Eh, tidak. Tidak hanya menurut undang-undang, tapi seharusnya menurut semua orang! Bahwa tidak seharusnya saya yang menghapus tulisan itu, sebab saya sama sekali tidak berkomentar apapun dan sudah jadi hak saya sebetulnya untuk memasukkan apa saja ke akun Facebook saya. Tetapi ini bulan puasa, dan saya sudah empot-empotan menutupi bolong akibat dosa. Jadi, ya sudahlah! Biarkan emosi saya, maksudnya, kebingungan saya ini agak reda dengan tulisan semi-perdom ini. Biarkan anda-anda yang sudah berhasil sabar dan membaca tulisan ini sampai akhir yang menilai sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s