Jangan Biarkan Saya Berpikir!

Tulisan ini adalah entitas pikiran-pikiran saya yang abstrak, sempit dan tidak populer, tapi tidak mesti disetujui—pastinya.(Tulisan ini akan terus diperbaharui dari waktu ke waktu.)

  1. Saya rasa standar minimal nilai 80 justru baik, sebab jika remidi pun, nilai di rapot akan tetap baik. (Memang yang paling baik sebetulnya tidak perlu remidi sama sekali.)
  2. Saya rasa wakil rakyat sepatutnya dilarang lebih makmur dari standar kesejahteraan rakyatnya sendiri. Bukankah para rakyat yang menggaji mereka? Mana boleh atasan jadi lebih miskin? (Apalagi uang hasil gaji, yang disisihkan dengan empot-empotan oleh atasannya dibuang-buang ke luar negeri dan tas puluhan juta seenaknya!)
  3. Mendikbud ada dalam posisi teratas di daftar “Peringkat Menteri-Menteri yang Jangan Diganti Melulu” milik saya. Sebab apabila sebuah program telah ditetapkan oleh menteri A dan tahun depannya langsung diganti menteri B, sedikit kemungkinan menteri B mau tetap menggunakan program menteri A (macam kurikulum 2013 vs KTSP itu). Jadi asal si menteri tidak korup dan benar-benar kerja, buat apa diganti? Masalah usulan-usulan agar pendidikan negeri lebih baik, rakyat yang harus kritis. Mengolah otak, kan?
  4. Pernyataan ‘perempuan selalu benar’ adalah sebetulnya suatu guyonan tolol yang merupakan objektifikasi, generalisasi, dan degradasi terhadap perempuan. Saya sudah malas menyebutkan alasannya mengapa, pikirkan sendiri.
  5. Terkadang saya takut dengan pikiran saya sendiri, saya percaya Tuhan, tetapi masih ada pertanyaan yang menghantui saya bahkan sampai menangis:

a. Sebelum jagad raya ini diciptakan, apa yang terjadi? Apa semuanya kosong? Apa yang dilakukan Tuhan sebelumnya?

b. Ada di mana saya bila saya tidak pernah diciptakan?

c. Bila kehidupan setelah mati itu ada, maka itu berarti kita akan hidup selama-lamanya dan tak ada istirahat? Tapi bila kehidupan setelah mati itu tidak ada, maka semua hilang begitu saja? kosong dan gelap? (Ini yang paling menakutkan buat saya.)

d. Bila saya masuk surga nanti (aamiin!)  ketika mati tua, maka apakah saya akan tetap tua, atau hidup sesuai dengan umur yang saya inginkan? Bagaimana jika semuanya yang masuk surga dapat memilih umur sesuka mereka, misal muda, maka saya harus beradaptasi dengan muka muda mereka? Nah bagaimana jika parallel waktu masing-masing orang berbeda, lalu tiap orang memiliki versi mereka sendiri sesuai dengan kali terakhir mereka bertemu? Semisal di parallel saya, ada kakek saya dengan fisik sesuai seperti beliau yang saya temui terakhir, kemudian kakek saya memiliki saya dengan fisik sesuai dengan saya ketika kecil, di waktu terakhir kami bertemu, di parallelnya? Berarti ‘saya’ di parallel kakek saya itu bukan saya, tetapi replika saya sesuai dengan memori kakek saya?

6.Memberangus suatu genre buku karena takut dapat mendoktrin suatu faham, adalah kebodohan manusiawi tapi membuat malu, sebab:

a. Kita punya internet.

b. Yang namanya faham dan pikiran, itu letaknya di otak. Tidak butuh media fisik untuk diteruskan ke orang lain.

7. Saya mengambil sikap menentang pikiran ‘orang pintar adalah orang-orang yang justru tidak tahu bahwa mereka pintar’. Yang betul, orang pintar mungkin ada yang merasa tidak pintar, tapi ada juga yang ya, namun bukan merasa paling pintar dan paling tahu, sebab dua delusi itu dapat menghalangi keinginan untuk belajar dan berkembang. Contohnya Soe Hok Gie, ia tahu ia seorang yang cerdas, dan ia belajar karena takut bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s