Matari dan Bulannya.

Saya membuat sebuah naskah drama untuk tugas antropologi. Awalnya dalam imaji saya terlukiskan narasi yang akan dinyanyikan oleh sinden. Tapi pada praktiknya hal itu terlalu rumit untuk anak SMA (sebetulnya mampu, tapi karena saya menunda-nunda sampai 3 minggu, maka jadi tidak mampu).

Naskah ini berceritera tentang Matahari dan Bulan. Tidak ada hubungannya dengan apa-apa, ini hanya suatu produk sastra asal-asalan yang dibuat last minute. Tidak ada kebenaran yang dijamin di sini. Tokoh-tokohnya adalah Chandra, Surya, Siwa, dan raksasa Banopati.

 

Alkisah ada suami istri berbahagia namun tak ada putra

Sang suami bernama Surya dan sang istri, si jelita Chandra

 

Chandra          : Suamiku, apakah itu yang menyebabkanmu bermuram durja?

Surya               : Istriku, apa menurutmu sesembahan kita bagi Bathara Siwa Mahakala berkekurangan?

Chandra          : Tidak sama sekali. Tiap panen bertambah, maka sesembahan pun aku tambah pula. Sebabnya Hyang Maha Kala telah begitu agung dan adil menuangkan rezeki yang melimpah ruah.

Surya               : Kukira juga begitu.

Chandra          : Apa perkaranya?

Surya               : Aku rasa kurang, Dinda. Sebab sampai detik ini pun perutmu belum juga ditiupkan ruh olehnya.

Chandra          : Ya, Kanda. Aku pun merindu hari aku dapat menimang bayi.

Surya               : Maka kalau begitu, mari.

Chandra          : Ke mana itu?

Surya               : Mengkhususkan sesaji agar dikaruniai putra atau putri.

 

Beranjaklah, menuju singgasana dewa.

Sebuah pura kecil terpendam di kaki gunung,

Sesembahan digotong

Mengagungkan sang dewa.

Hyang Batara Siwa dan Durga

Para mahakala para hyang yama

 

Setelah doa diucap, kembalilah mereka ke rumah. Dalam mimpi, Surya dan Chandra bertatap muka dengan Siwa. Titahnya, 

Siwa                : Wahai kau manusia sepasang, pergilah kalian ke istana Banopati di sebelah ufuk timur tempat gunung menjuntai. Daripadanya akan kalian bawa kepadaku mustika merah menyala-nyala. Persembahkanlah kepada puraku. Mustika merah menyala, dan bukan yang lainnya lagi.

 

Lalu bergegaslah mereka ke Istana Banopati yang jauh. 3 hari 3 malam mereka berjalan, hingga sebuah tubuh menjulang tinggi mencegah,

Banopati         : mau apa kalian datang kemari.

C & S              : Diperintah Hyang Batara Kala melalui mimpi, Prabu.

Banopati         : Apa yang kau kehendaki?

Surya               : Mustika merah menyala kepunyaan prabu seorang.

Banopati         : Ya, masuklah dan ambil mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi.

C & S              : Baik, Prabu.

 

Sembari menjajak masuk, Surya dan Chandra terheran-heran akan mengapa sampai Hyang Mahakala dan Banopati mewanti-wanti. Nyatanya, yang mengejutkan adalah yang mereka saksikan.

Surya               : Istriku, ribuan jumlah harta ini! Bila kita ambil serauk atau dua, tidakkanlah kurang kekayaan Banopati!

Chandra          : Titah Dewa hanyalah mustika merah menyala, Kanda, dan bukan yang lainnya lagi. Nah itu, melompatlah engkau dan raihlah mustika di atas kita, tubuhku terlalu kecil untuk menggapainya.

Pada lompatan pertama, mustika merah menyala yang ada di tengah-tengah Istana itu tergapai.

Chandra          : Dengan ini akan kita miliki seorang anak, Kanda!

Surya               : Tapi, mari ambil sedikit saja. Bila kita kaya, maka anak-anak kita juga akan berbahagia, makan kita akan cukup, dan hidup kita bakal makmur.

Namun jangankan serauk, baru sebatang emas yang disentuh, istana itu bergetar seperti mau terbelah. Mustika itu makin menyala-nyala, jadi panas bahkan.

Banopati         : Bukan kubilang mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi?

C & S              : Ampun, Prabu. Sembah ampun.

Banopati         : Ampunmu terlambat, manusia. Jadilah yang laki-laki matari, dan yang perempuan bulan. Berkejar-kejaranlah kalian supaya bertemu, namun percuma.

Sinar mustika melahap habis Surya, menjadikannya sinar itu sendiri. Sementara kecantikan Chandra lenyap, sebab ditelan malam kelam.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s