Kenapa Cuma Korupsi?

Tulisan ini berawal dari teman saya yang norak dengan kata ‘nepotisme’. Saya gerah dengan hipokrisinya.

Pagi itu kami diberikan tugas yang cukup longgar. Kawan saya tiba-tiba datang ke meja saya dan terus menerus mencoba ‘mengkampanyekan’ sesuatu yang anti-nepotisme. Karena agak keki, tidak hanya karena ia begitu norak dengan kata itu, tapi juga karena begitu hipokrit, saya akhirnya angkat bicara.

“Lhu baru kenal kata itu ya?”
Terdengar lebih kasar dari yang saya kira, karena ia berhenti buru-buru untuk menggeleng.

Pandangan lalu saya alihkan kepada kawan saya yang lain, yang ada di depan muka saya. Saya bilang kira-kira, “selain korupsi ada sifat lain yang kronis di Indonesia ini. Lebih parah mungkin. Karena masyarakatnya diam saja, maklum malah.”

Dan itu adalah perihal nepotisme.

Nepotisme ini kan tidak serta merta hanya terjadi di instansi-instasi pemerintahan tok. Dan saya kira saya ini anak bawang yang jangan terlalu sok menghakimi pemerintah (tapi sifat sok menghakimi justru harusnya bangkit di tiap jiwa mahasiswa. Menghakimi untuk mengawasi, dilandasi pikiran-pikiran bagus dan ilmu yang baik. Bukan menghakimi dengan menghujat tanpa akar. Tapi karena saya belum jadi mahasiswa, saya belum wajib sok menghakimi). Sekarang konteks nepotisme yang akan saya bahas adalah nepotisme yang dilakukan kawan saya dan bapaknya, dalam skala begitu kecil. Tapi bagi saya, segala bentuk kelaliman itu besar. Karena yang kecil akan terus tumbuh. Ini saya katakan bukan dengan munafik, saya sadar hidup saya penuh kelaliman yang saya lakukan sendiri.

Kawan saya ini sebetulnya orang yang cerdas, tapi saya bingung mengapa ia begitu malas sejak kelas satu SMA dan tiba-tiba jadi begitu memikirkan alur pendidikannya di kelas tiga. Kata guru saya, itu normal. Normal, tapi terlambat. Saya selalu mengajaknya belajar bareng saya di sekolah, tapi hasrat untuk belajar di sekolah itu memang tak ada. Dia lebih senang melakukan apa yang dia senangi saja. Kadang saya gondok kalau dia ngata-ngatai almamater saya, almamater kami berdua. Ini almamater sudah ada dari zaman ibu saya dan baik-baik lulusannya, kamu yang goblok dan jangan salahkan sekolahnya.
Saya akui kemampuannya yang luar biasa dalam bermitologi dan menggambar, tapi bila ia selalu protes pada saya tentang bagaimana kakak-kakaknya yang tidak tahu terima kasih membuang-buang uang orangtuanya dengan kenakalan yang luar biasa padahal sudah disekolahkan mahal-mahal, maka ia harusnya giat belajar. Saya tahu sekolah saya ini amat sangat tidak murah. Makanya harus menyesuaikan. Di negeri mungkin boleh kamu tidak belajar, tapi di swasta, tiap menit itu ada harganya.
Suatu hari saya utarakan opini itu, dia tidak menggubris. Kilahnya, “tapi mereka (kakak-kakaknya) itu benar-benar bandel.”

Lalu saya berhenti gubris. Tidak akan ada perubahan bila itu tidak muncul dari dalam diri sendiri. Apalagi saya bukan tokoh yang menginspirasi.

Tapi itu hidupnya, hak saya adalah untuk mengurusi hidup saya sendiri. Sebab kewajiban saya adalah untuk mengurusi hidup emak saya nanti. Karena teman saya itu bukan diri saya maupun emak saya, maka saya tidak ada hak dan kewajiban untuk mengurusi hidupnya.

Namun, yang menyulut amarah saya bukan sekadar itu. Saya memang tidak mau masuk PTN, karena jurusan yang saya kehendaki tidak ada di PTN (dan 1000 alasan lainnya…), tapi di kelas saya, banyak yang sudah belajar giat supaya dapat masuk PTN. Ada satu kawan saya yang biasa saja otaknya, tapi begitu rajin belajar bersama saya sampai nilainya bagus-bagus, yang ingin sekali masuk PTN. Lalu kawan saya yang cerdas tapi malas dan sudah tobat ini datang dan mengatakan kepada saya bahwa ia akan masuk UI. Bukan sok, saya tahu dia cerdas, tapi dulu dia malas maka saya tanyakan, “Nilai lhu bagaimana?”

Apa jawabnya?
“Papi punya banyak kenalan. Katanya, nanti gue bisa masuk UI lewat kenalannya.”

Amarah saya di puncak, tapi tak saya tunjukkan. Sampai sekarang tiap ia berkata, “Ah nanti gue masuk UI lewat Papi kok”, saya acuhkan ia.

Menurut saya dia berhak mengenyam pendidikan, sama seperti siapapun juga, tapi dia tidak boleh segampang itu mendapatkan kursi di PTN. Itu harusnya jadi hukuman akibat kemalasannya dahulu. Bila ia benar-benar mendapatkan kursi itu, maka begitu tak adilnya jagad raya ini. Bila ia mendapatkan kursi dan kawan saya yang biasa saja tapi rajin itu tidak, maka, entahlah. Saya bahkan terlalu bingung.
Ya, mungkin saya memang berlebihan. Tetapi apakah itu adil bila seseorang yang telah berusaha mati-matian dikalahkan oleh mereka yang tidak berusaha sama sekali, tapi beruntung? Keberuntungan ini pun bukan keberuntungan baik, melainkan buruk adanya.

Saya khawatir dengan perihal nepotisme ini. Karena tiap saya bicara mengenai kekhawatiran saya, tidak ada yang betul-betul peduli. Ibu saya sempat bereaksi, tapi reaksinya biasa saja, bukan yang sangat terkejut. Sementara kawan-kawan saya yang lain bilang itu hal jelek tapi biasa. Malah ada yang bilang, “Nggak apa-apa sih. Biasa kan itu? Soalnya saudara-saudara gue begitu juga kok pas mau masuk akpol.”

Kegondokan ini akhirnya saya pendam. Saya utarakan di sini dan lega. Kenapa cuma korupsi yang jadi perhatian kita semua? Mengapa nepotisme yang begitu mendarahdaging luput dari perhatian kita? Mungkin bukan tidak memerhatikan, tapi kita yang memilih untuk mengesampingkannya dari pandangan kita. Mungkin juga karena tidak ada tempat mengadu, karena kalau diadukan pun paling-paling bakal ditertawakan. Atau mungkin juga karena nepotisme ini tidak ada wujud fisik dalam prosesnya, sehingga tidak masuk hitungan. Di Indonesia, kalau anaknya belum kena jotos berarti itu bukan kekerasan, bukan?

Mungkin juga, mungkin, karena nepotisme kecil-kecilan ini belum dalam skala pemerintahan, jadi masyarakat tidak merasa perlu repot-repot untuk mengkritik. Toh yang perlu dikritik itu hanya pemerintah kan?

Saya percaya kita mampu mengurangi kelaliman ini, bila dari dalam kita mau. Mau berpikir kritis dan mau bicara. Saya juga percaya jiwa demonstran itu harus ditumbuhkan dalam diri setiap anak muda. Anak tua juga boleh. Yang penting demonstran baik, mewakili suara rakyat dan bukan demonstran demi nasi rames atau duit gocapan.

Saya begitu mencintai negara ini, terkadang begitu mencintai sampai terasa sakitnya. Tolong jangan balut kontribusimu dalam kelaliman dengan rasa nasionalisme yang sok ditinggi-tinggikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s