Tiada Tempat Bagi Indonesia?

Sehari tadi harusnya saya belajar untuk ulangan tengah semester, tapi malah buang-buang waktu di mall.

Saya diajak Ibu saya untuk mendatangi sebuah cat show karena kucing saya ikut serta. Kucing-kucing itu akan dinilai perilakunya dan dibuat stress, suatu bentuk indirect mental abuse pada hewan. Saya tidak suka, binatang ditukar uang. Meskipun dalihnya adalah ‘balas budi karena telah merawat’, tetap saya tak suka. Kucing saya sendiri gemetar sampai tidak mau makan.

Tapi saya kenalan dengan seorang perempuan, cantik sekali. Pertama kali lihat langsung ingat seorang kawan di sekolah. Benar-benar persis. Gayanya, rambutnya, gerak-geriknya, kesukaannya, benar-benar seperti doppelgänger. Cuma yang ini sepertinya tidak punya anger management issue.

Kami bercakap-cakap lama sehingga cukup untuk mengisi waktu luang. Kami lumayan klop, seumuran, hanya dia lebih muda setahun dan kedengarannya pintar (dia menyebutkan beberapa kali ikut lomba sains dan masuk kelas unggulan di sekolahnya) tapi sayang tidak suka baca.

Dia suka menggambar juga, lalu kami bicara tentang cita-cita. Ia berkata mau ambil S1 arsitektur di UI dan S2 di Jepang, saya bilang bagus.

“Di University of Tokyo nanti, karena ada 4 penjurusan arsitektur.”

“Oh, Toudai?”

“Ya, mereka ada urban architecture, architectural design, (dan 2 lagi saya lupa).”

“Wah, ambil urban architecture, ya! Nanti kamu bisa design kota Jakarta supaya kaya Singapore.”

Lalu mukanya ragu. “Hemm,” katanya. “Honestly, I’m not sure if I even want to go back to Indonnesia.

Jujur, saat itu saya tersinggung. Di saat saya gencar menyisipan propaganda ‘nasionalisime’ dan ‘bibit-bibit sifat baik untuk generasi yang baik pula’ pada kawan-kawan saya melalui tugas sekolah, anak ini malah menyia-nyiakan otak yang ia miliki untuk jadi TKW di negara lain. Memang sudah jadi haknya untuk memilih bidang apa saja yang ingin ia kuasai, tetapi keraguannya akan Indonesia lah yang membeset hati saya. Saya tiba-tiba teringat pada kemuliaan hati Pak Habibie yang capek-capek sekolah teknik di Jerman untuk bikin pesawat buat Indonesia.

Tetapi, kunci dari komunikasi yang baik dan cerdas, adalah keterbukaan pikiran terhadap argumen-argumen lawan bicara. Saya lalu tanyakan mengapa.

“Ngapain susah-susah bikin tapi nanti malah dicorat-coret graffiti?”

Bagi jiwa seniman saya, poin itu benar sekali. Buat apa karya yang sudah kami buat dengan air mata (ini literal bukan hiperbol), secara sukarela kami perbolehkan untuk dirusak? Vandalisme adalah musuh terbesar seorang seniman.

Tapi buat diri idealis saya, alasan seperti itu terlalu cetek untuk seorang calon arsitek dan jago kimia. Bagi saya, niat adalah nomor satu. Saya memang seorang reaksioner yang goblok, makanya saya sering terlibat masalah akibat perbuatan saya yang tidak direncanakan matang-matang dulu dampak ke depannya apa. Namun toh itu bukan masalah, tapi sebuah pembelajaran. Kemudian saya katakan pada dia, “Nah itu tugas kita juga, sebagai pemuda untuk menyadarkan saudara-saudara kita yang merusak.” Tapi lalu saya tertawa sehingga ia anggap saya bercanda. “Biasanya aku kalau badmood juga gitu, jadi pintar,” katanya pada saya.

Padahal saya serus. Bila itu menyangkut tanah air, sifat reaksioner itu harus selalu ada pada jiwa pemuda. Menurut saya, seharusnya tidak kita pikirkan dahulu akan diapakan karya kita nanti—dicorat-coretkah, dibakar, entahlah. Membenahi harus jadi our main goal. Bila suatu hari nanti benar ada yang merusak, maka oknum-oknum itu bakal diganjar oleh hukuman yang berlaku.

Apakah ketika membenahi taman-taman di Surabaya, Ibu Risma merasa ragu, sebab toh akhirnya taman itu akan dirusak lagi oleh oknum-oknum?

Apakah saat mengerahkan petugas dan alat berat yang tidak murah untuk mengeruk sampah-sampah di kali, Ahok merasa ragu, sebab toh akhirnya kali itu akan dipenuhi sampah lagi oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab?

Hanya karena oknum-oknum tolol, kita jadi enggan menanamkan cinta dan niat baik pada negara kita. Oknum-oknum itu nanti bisa kita ganyang, keroyok, terserah. Oknum-oknum itu dapat diperbaiki lagi mental dan moralnya.

Lebih baik menjadi minoritas yang baik daripada mayoritas yang buruk, kan?

Indonesia butuh setiap cendekiawan-cendekiawan cerdasnya. Dalam beberapa poin dalam hidup saya, tentu saya pernah merasa pesimis dengan Indonesia. Tapi bila saya hilang percaya diri, dan orang-orang lain juga begitu, maka besar kemungkinan kita dapat merasa menyesal meraih kemerdekaan ini. Minta dijajah lagi oleh Belanda, Jepang, Cina atau Amerika bahkan.

Tapi bila saya percaya diri akan masa depan Indonesia, dan misal hanya saya seorang Indonesia yang memegang teguh pada kepercayaan itu, Indonesia tetap bakal maju dan berubah. Itu pasti. Matipun saya senang. Saya ingin semangat juang melawan orang-orang luar negeri tidak berubah dari zaman tancap bambu dahulu.

Kalau saya percaya Indonesia mampu, maka harusnya kamu dapat percaya juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s