Risalah Namamu

            “Kita jangan bicara lagi.”

            Dia berkata begitu. Bagaimana? Kami baru bertemu 2 jam?

            “Mengapa?”

            Dia terdiam. Wajahnya wajah yang sama manisnya, yang kulihat dua tahun lalu. Yang kuimpikan dan dambakan selama ini. Sama juga—tanpa senyum. Mungkin ia simpan sendiri, mungkin ia lebih nyaman menyakiti semua orang dengan belati congkaknya. Mungkin juga ia sembunyikan sesuatu di balik itu. Mungkin juga… Mungkin. Aku tak pernah tahu, dan aku tahu aku tak bakal tahu.

            “Saya telah baca puisi-puisimu tentang saya.”

            “Sudah? Darimana? Bagaimana kamu tahu puisi-puisi yang kamu baca itu dari saya? Terlebih tentangmu?”

           “Ya, seorang kawan memberitahukan kepada saya. Dalam puisi-puisi itu nama saya sering sekali disebut. Kamu pernah bilang kamu menyukai nama saya.”

            “Tak berarti itu kamu. Tak ada yang menyuruh namamu sebegitu bagusnya. Namamu bukan spesifikasi akan suatu subjek tertentu, bukan kamu. Namamu itu muncul dalam KBBI. Namamu itu luas sekali artinya. Namamu dapat kupakai sebegitu seringnya dan seringpun artinya tetap bukan kamu… Saya, saya…”

            Tanpa sadar aku telah menitikan air mata. Ini adalah sebuah perpisahan, yang akupun tak inginkan. Dan tak oleh siapapun mungkin, kecuali saja oleh ia, orang yang sedang berhadapan denganku.

Ia terlihat bingung dan kelabakan. Mungkin aku perempuan pertama yang menangis depan dia. Tapi aku tidak mau menangis, menangis berarti lemah. Aku bukan perempuan lemah, air mata yang telah turun buru-buru aku seka. Lagipula aku jelek ketika menangis.

Kemudian sebelum dia bicara apa-apa lagi, aku memotongnya.

“Puisi itu bukan tentangmu.”

“Jadi benar, kamu yang tulis,” Ia menyimpulkan. “Puisi-puisimu bagus. Ada kawan saya yang juga suka menulis puisi. Saya bisa kenalkan ke kamu kalau mau.”

“Tapi kan kamu tahu, bukan kawanmu yang saya inginkan,” tepis saya.

“Kamu belum kenal dia. Dia jauh lebih ganteng, cerdas, bertalenta…”

“Aku kenal dia siapa. Dia kawanmu yang lebih ganteng, cerdas, dan bertalenta. Tapi bukan dia yang aku tulis. Bukan dia. “

“Berarti puisi-puisi itu tentangku kan?”

Aku kalah telak. Kekalahanku aku yang tuliskan sendiri di dahiku. Aku salah bicara, kata-kataku yang membunuh diriku sendiri. Sudah terlanjur, kata Ibu melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Kalau sudah basah, mending kuyup sekalian. 

“Ya memang, itu tentangmu. Perasaanku padamu, yang meluap-luap dan yang tak bisa kusampaikan itu, kutumpahkan semuanya di sini. Di lembaran-lembaran bertuliskan namamu ini.”

“Tidak adil,” kataku lagi.

“Padahal telah saya impikan mengatakan ini sendiri. Bahwa ini semua mengenaimu. Dalam mimpi saya itu, kamu tertawa. Menertawai aku yang begitu naif, lalu kita kembali jalan bersama. Bergandengan tangan. Dalam mimpiku, semua yang kulakukan diam-diam ketika mencintaimu, kunyatakan semua padamu, setelah kita bersama. Bagaimana perasaanku pertama kali melihatmu, aku benci padamu sekali dulu, tapi juga kamu tak bisa keluar dari pikiranku. Betapa di kali kedua kita berdua bertemu, dalam keramaian yang sumringah, aku hanya dapat memerhatikanmu. Lalu puisi pertamaku tentangmu, yang isinya kehancuran hatiku. Yang menerka bahwa kita tak akan pernah mengenal, tak akan pernah bicara. Kita tak akan pernah bertemu lagi. Terkaan yang salah, karena nyatanya apa? Kita berbicara sekarang, berdua, bertatap mata. Lalu ketika aku bertemu lagi denganmu, di tempat yang beda, di sekolahmu, setahun setelahnya. Lalu kegundahan yang kurasakan selama dua hari hanya untuk mencoba menyapamu, sampai-sampai perutku sakit itu. Sampai pada hal yang tak tampak di mimpiku, seperti kamu yang mengenalku, dan kamu yang membenciku. Tapi… Begitupun riuh ceritaku, begitupun kompleks dan tak beraturan membuat bingung dan ngeri, di mimpiku itu, di akhir cerita kamu tetap tertawa. Kamu menertawai aku, dan kita tetap bersama.”

Bayangan ia meninggalkanku semakin dekat dan aku menangis lagi.

“Boleh saya minta sesuatu padamu, sebelum kamu pergi?” tanyaku sambil terisak.

“Tolong tertawakan saya.”

Advertisements

Siapa Menyalah Siapa Bersalah

Air-airnya jatuh berkat samudra yang melubangi telungkup
Telah lolos tetapi masih memberi senyum yang berkabur-kaburan
Tapi sebetulnya bukan karena bocor, air-air itu kembali jatuh
Namun berkat gerigi-gerigi duri dan gigi yang menerkam putri
Berkobar membakar jadi api
Tolonglah tolong,
Baginda bukan dewi hanya seorang putri.