Cerita Calon Arang: Camilan Tepat untuk Calon Penikmat Sastra

          Di kelas, saya sering dipandang sebagai ‘calon sastrawan’. Padahal saya lebih ingin dilihat sebagai seniman, sebagai pelukis. Tapi hobi saya yang itu tak begitu baik rupanya, sehingga yang dipandang terus adalah tulisan-tulisan saya (yang juga sebenarnya tak begitu baik). Lalu suatu hari ada kawan saya datang menghampiri minta diberi saran bacaan bagus, berbobot sastra. “Kan kita anak bahasa,” kata dia begitu. Tapi dia minta, supaya tak berat-berat dahulu. Jangan langsung disodori bahasa plitat-plitut, bisa gila dia, katanya. Lama saya pikirkan apa yang cocok buat ia: bacaan ringan yang menghibur, tapi tetap sarat akan makna estetis sastra murni (bukan abal!). Lalu tiga hari lalu, saya pinjam buku di perpustakaan—Cerita Calon Arang judulnya.

            Buku ini telah saya temukan kira-kira sebulan yang lalu ketika ada pelajaran di perpustakaan. Tapi kala itu saya masih berkutat dengan Lupus, sehingga sayang kalau saya mulai bacaan baru (halah, padahal sering hubungan saya dengan buku satu dengan yang lainnya kandas di tengah jalan). Minggu berikutnya setelah saya bertemu dengan buku itu, saya berniat untuk meminjamnya karena telah selesai baca Lupus. Tapi sayang, mungkin belum jodoh, kata ibu pustakawan bukunya sedang dipinjam. Lalu dua minggu setelahnya saya kembali lagi, dan katanya buku itu juga masih belum kembali. Saya akhirnya berniat untuk membeli sendiri saja, tapi sampai sekarang tak sempat-sempat beli (padahal cuma pesan lewat toko daring).

            Kemudian baru hari Selasa kemarin, saya ke perpustakaan lagi dan bukunya sudah kembali! Tapi katanya sudah diselipkan di rak buku, artinya saya mesti mencari-cari sendiri. Buku itu tipis dan kecil, jadi harus benar-benar menilik satu persatu buku. Agak lama saya berkutat di rak kesusastraan dan akhirnya ketemu! Langsung saya pinjam, tapi syaratnya hari ini harus kembali (berarti dari tanggal 6 Desember sampai maksimal 9 Desember). Awalnya saya agak ragu, karena saya itu slow-reader. Tapi saya menantang diri saya sendiri. Kebetulan hari Rabu sampai Jum’at itu saya ada try-out, berarti bakal ada waktu kosong lumayan lama setelah mengerjakan soal (kecuali untuk pelajaran matematika). Dan buku itu selesai tepat pada waktunya, ini rekor tercepat saya. Karena betul, saya lambat sekali dalam membaca. Saya tak mau cepat-cepat menghabiskan buku yang saya baca. My dilemma: I want to take things slow as a sign of enjoyment, but when it’s taking too long, I start to get bored.

            Buku Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer ini memang betul ringan dan dijuluki sebagai ‘dongeng’ oleh penerbitnya, Lentera Dipantara. Cerita ini ditulis kembali oleh Pram, berdasarkan kitab-kitab yang betul-betul menceritakan soal ‘Calon Arang’, ‘Empu Baradah’, dan ‘Raja Airlangga’.

Dikatakan oleh penerbitnya, bahwa banyak feminis yang tak setuju dengan cara Pram menuliskan tokoh Calon Arang. Katanya terlalu bias gender, karena Calon Arang ini seorang perempuan yang kelewat sadis dan tipikal antagonis klasik yang dilukiskan dengan sifat ‘sejahat-jahatnya’. Tapi saya, seorang feminis, tak setuju mengenai ini. Menurut saya ini justru angin baru, sebab berdasarkan sedikit karya Pram yang telah saya baca, jarang Pram menggambarkan tokoh perempuan dengan sifat dominan. Biasanya menye-menye seperti Annelies, atau cenderung nerimo seperti Dedes, Wedawati, dan Ratna Manggali. Bagi saya juga, tak ada yang salah menggambarkan Calon Arang dengan begitu jahatnya, sebab tak ada yang salah dengan menjadi jahat. Semua manusia di muka bumi itu jahat.

Sinopsisnya saya ambil dari goodreads.com:

Cerita Calon Arang bertutur tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat. Pemilik teluh hitam dan penghisap darah manusia. Ia pongah. Semua-mua lawan politiknya dibabatnya. Yang mengkritik dihabisinya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang… murid-muridnya dipaksa berkeramas dengan darah manusia. Kalau sedang berpesta, mereka tak ubahnya sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya.

Tapi kejahatan ini pada akhirnya bisa ditumpas di tangan jejari kebaikan dalam operai terpadu yang dipimpin Empu Baradah. Empu ini bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang-ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak buat permainan segala macam kejahatan.

            Adapun tokoh-tokohnya Calon Arang itu sendiri, seorang janda sakti yang tak manusiawi, yang membunuh untuk kesenangan pribadi. Lalu ada Empu Baradah, yang lalu akan menjadi lawan dari Calon Arang, seorang pandita agung yang dihormati banyak orang, bahkan sempat oleh Calon Arang sendiri. Anak-anak mereka berturut-turut, Ratna Manggali dan Wedawati, adalah dua gadis yang sangat cantik dan disayangi orangtuanya, tetapi memiliki konflik batin yang kuat dengan mereka—baik dengan yang kandung maupun tiri.

Cerita Calon Arang cocok menjadi bacaan sekali duduk dan untuk mengisi waktu luang karena sifatnya yang menghibur, cocok apabila Anda mau mulai coba baca karya susastra yang tergolong ringan. Pendeskripsian suasana a la Pram yang mendetil dan ‘lembut’ juga menonjol di sini, meski pendek dan alur ceritanya cukup cepat. Cepat, namun juga tepat, sehingga saya terus menerus merasa penasaran dan tak merasa diburu-buru. Akan tetapi hanya ada satu hal yang saya sayangkan, sedari awal baca saya mengharapkan interaksi antara Wedawati dan Ratna Manggali. Tapi di akhir cerita, saya menjadi bertanya-tanya, apa sebetulnya fungsi Wedawati disebut-sebut? Apabila sekadar disebut-sebut sebagai anak Empu Baradah, tak apa. Namun Pram bahkan membuatkan bab khusus untuknya, tapi ia tak berbuat apa-apa yang dapat memengaruhi plot cerita. Seolah ia pemanis belaka, tapi pemanispun bagi saya Ratna Manggali saja cukup.

Yah, berikut ini coretan kecil saya di sela waktu kosong setelah mengerjakan soal setelah membaca Cerita Calon Arang (betul-betul bosan).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s