Update: Saya Masih Hidup!

Sudah agak lama sejak terakhir saya menulis. Kali ini betul-betul lama sampai saya rasa otak saya mulai tumpul.

Biasanya saya membawa sebuah jurnal kecil ke sekolah, di jurnal itu saya menuliskan perasaan-perasaan saya. Tapi semenjak bulan ujian, hidup saya seolah diburu-buru waktu, sehingga menulis perasaan saja tidak sempat. Buku-buku yang saya baca juga mulai bergeser, tak satupun buku sastra saya santap. Banyaknya sekarang buku-buku politik dan filsafat. Bukan buruk memang, common sense saya jauh lebih baik kini. Tapi estetis bahasa saya menurun drastis, saya merasa dungu. Mungkin memang benar sastrawan itu orang-orang cerdas dalam esensinya, seperti yang dapat saya kutip dari “Titik Balik Peradaban” karya Fritjof Capra, “Ketika Presiden Lyndon Johnson membutuhkan nasihat dalam kaitannya dengan Perang Vietnam, staf pemerintahannya berpaling pada para ahli teori fisika—bukan karena mereka adalah spesialis dalam metode-metode perang elektronika, melainkan karena mereka dianggap pendeta-pendeta ilmu tertinggi, penjaga ilmu agung. Kini kita bisa menyatakan, dengan menoleh ke belakang, bahwa Johnson mungkin akan mendapatkan pelayanan yang jauh lebih baik seandainya dia meminta nasihat pada beberapa penyair. Tentu saja, hal ini tak pernah terpikirkan.”

            Oya, Titik Balik Peradaban masuk ke rekomendasi bacaan ringan yang mencakup esai mengenai permasalahan sosial, sains, dan budaya. Saya menyebutnya bacaan ringan bukan untuk dilihat pintar, tapi hal-hal yang ditawarkan Capra bagi saya amat menarik, segar, dan tidak berbelit-belit, sehingga dapat dijadikan camilan untuk mengisi waktu luang. (Tak seperti beberapa buku sejarah dan filsafat yang bisa bikin saya depresi.)

Karena saya ingin kembali dirasuki oleh jiwa kesusastraan, maka saya mengobok-obok kembali kubangan buku saya. Tak semua buku selesai saya baca. Susah menolak pesona buku-buku baru. Pilihan saya jatuh pada “Stasiun”, novel karya Putu Wijaya yang saya beli beberapa bulan lalu ketika pertama kali jatuh hati pada Putu. Saya saat itu baru ‘melek’ dan norak dengan karya-karyanya yang metaforis dan menggigit. Tapi kemudian fokus saya teralihkan lagi, kini saya membaca sebuah buku politik yang tidak bisa saya sebutkan judulnya di sini. Tapi lumayan tipis, saya rasa saya mampu menyelesaikannya minggu ini, mengingat saya sudah menyelesaikan SMA.

Saya sudah lulus SMA dan diterima di dua universitas bagus. Yang satu di Milan, jurusan desain (cita-cita saya sejak dulu!), yang satu lagi Universitas Indonesia. Tapi karena saya diterima di Universitas Indonesia hasil SNMPTN, maka saya harus menolak Milan. Saya tidak mau jadi manusia egois, kasihan junior-junior saya yang nantinya dimasukkan ke daftar hitam universitas prestis itu. (Padahal apa peduli saya, biaya ke Milan mahal sekali dan jarang ada beasiswa untuk jurusan desain. Kalau saya kaya maka peduli setan dengan nasib junior-junior saya.)

Saya bukan manusia yang atletis. Nilai sprint nomor 100 meter saya kemarin merupakan yang terendah. Tapi dari semua olahraga yang saya benci, panahan, anggar, dan berkuda adalah favorit saya. Berkuda, karena sejak kecil saya betul-betul mencintai kuda. Sementara anggar, karena mungkin olahraga itu yang paling dekat dengan ilmu pedang zaman Victorian dan Renaissance, yang menurut saya sangat fascinating (terlebih dengan model-model pedangnya yang sarat akan nilai seni). Di mata saya memanah memang selalu terlihat keren dan menantang untuk dicoba.

Dan anehnya, dalam berkuda dan memanah kemampuan saya tidak seburuk dengan kemampuan berolahraga saya yang lain. Sebut saja ketika berkuda, saya hanya membutuhkan beberapa menit untuk menyeimbangkan diri, bahkan sampai mamang-mamangnya (iya, saya naik kuda di Bandung, yang di pinggir jalan itu) sudah tega meninggalkan saya berduaan saja dengan kudanya. Sementara kawan saya yang satu masih pontang-panting untuk duduk tegak, padahal ia termasuk seorang pemberani dan serba bisa! (Saya lalu merasa bangga sekali pada diri saya sendiri.)

Ini masuk bulan kedua saya belajar memanah, dan saya rasa kemajuan saya cukup pesat. Saya ditawarkan untuk serius menjadi atlet, setidak-tidaknya untuk mewakili klub saya sendiri. Nanti rencananya bulan Agustus saya dikirim ke Bandung, semoga saja saya tidak malas. Tapi seru juga, tempat latihannya persis di depan rumah saya. Yang saya khawatirkan nanti adalah ketika telah membeli busur sendiri, saya kehilangan motivasi untuk berlatih, mengingat saya adalah seseorang yang mudah bosan. Semoga tidak.

Processed with VSCO with m5 presetOmong-omong, di samping itu adalah panah pertama saya! Namanya Akik. Karena Akik merupakan busur tradisional, saya tetap harus membeli busur recurve untuk ikut kompetisi.

Yah, begitu kira-kira hidup saya belakangan ini. Saya lumayan kewalahan menjalaninya, semua terjadi begitu cepat. Tapi ya, just go with the flow katanya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s