Masih Dengan Pergelutan Feminisme

Rasanya tak berkesudahan saya membicarakan perkara feminisme atau kesetaraan gender, tapi rasanya juga tak akan rampung sampai akhir zaman pun.

Belakangan telah menggumpal di pojok benak saya mengenai segala sesuatu yang ingin saya tulis, namun tanpa disadari waktu saya habis terlalu mensortir apa saja yang mesti ditulis dan apa yang mesti dianggurkan selamanya.

Sebelumnya memang pernah saya menulis tentang feminisme di sini. Tulisan itu dari dua tahun lalu, jadi bagi saya esai kacang begitu sudah kadaluarsa. Di SMA dulu (saya sudah lulus, loh!) saya dipandang ‘cerdas’, ‘melampaui teman-teman saya’ karena pokok pembicaraan saya cenderung berbeda dari teman seumuran saya. Salah satu pokok pembicaraan yang dimaksud adalah sifat kritis saya terhadap problem kesetaraan gender dan stereotip-stereotip lain yang menggerayanginya. Meski begitu, saya tak merasa begitu sesungguhnya. Banyak juga teman saya yang kritis cuma disimpan diam-diam saja. Mungkin saya yang terlalu berisik dan vokal, tapi entahlah. Nah, tapi saya bosan juga kalau melulu yang dibahas adalah kesetaraan gender, seolah hanya masalah itu yang saya mengerti dan perjuangkan. Padahal kan tidak. Selain itu saya pikir juga kesetaraan itu hal elementer sekali, pitik, masa masih harus dibahas terus menerus. Saya berharap masyarakat kita telah cukup cerdas untuk menimbang-nimbang lagi soal seksisme, prejudisme, steoreotipisasi, maupun yang paling mayor, dikriminasi. Maka dari itu, saya hanya akan memberi sedikit pernak-pernik dan membahas yang cilik-cilik.

Yang satu, yang agak berat dulu. Lagi-lagi stereotip dari masyarakat. Di poin pertama ini saya akan mengkoreksi diri saya sendiri berdasarkan tulisan kacang dua tahun lalu itu.

Saya masih setuju bahwa feminisime itu bukan mengenai jatuhnya harga diri laki-laki apalagi menjelek-jelekkannya. Feminisme itu, meski mengandung kata ‘femina’, justru mau turut mengangkat derajat laki-laki. Dalam esai itu tetapi dituliskan, “Mereka sibuk mengatakan bahwa wanita bebas berpakaian model bagaimanapun tanpa harus dicap sebagai wanita apapun. Dan yang harus mengekang nafsu adalah laki-laki, sehingga itu bukan menjadi problem perempuan. Sedang menurut saya, laki-laki memang diciptakan sepaket dengan napsunya (wanita juga begitu), sudah kodrati. Jadi harusnya si perempuan yang tahu diri, tanpa sedikitpun merendahkan derajat wanita, ya. Nah kalau sudah tertutup tapi masih diperkosa, baru itu laki-laki bermasalah. (Yang akhiri saja dengan sebuah tendangan di selangkangan, seperti kata Nenek saya.)”.

Saya mengatakan bahwa laki-laki itu diciptakan sepaket dengan napsunya, walau memang saya lanjutkan dengan kurung buka wanita juga begitu kurung tutup, tapi pada konteksnya hal tersebut adalah seksisme sebab saya katakan lagi bahwa harusnya perempuanlah yang ‘tahu diri’. Selanjutnya saya ingat sekali, pernyataan saya itu secara implisit ingin mengutarakan bahwa laki-laki itu tidak dapat mengekang napsunya.

Saya sering berkontemplasi malam-malam sebelum tidur dan saya putuskan, itu bukan hanya merendahkan derajat perempuan saja, tapi juga laki-laki. Mengatakan, meski tidak secara langsung, bahwa laki-laki itu tidak dapat mengekang napsunya adalah bentuk penghinaan tertinggi. Apa lagi yang kita ketahui yang tak dapat mengekang napsunya? Tentu, binatang. Memang betul kingdom kita semua ini Animalia, tapi apakah kita tidak risi apabila disama-samakan dengan makhluk yang notabene hidup berdasarkan insting? Bukankah Tuhan begitu membangga-banggakan kita sebab kita berakal sehat? Dengan bekal akal sehat itu tentu manusia mampu menahan napsunya, begitu menurut saya. Jadi saya minta maaf apabila tulisan saya itu pernah menyinggung laki-laki di belahan dunia manapun (yang tentunya mengerti bahasa Indonesia).

Jadi bagi saya pemerkosaan itu bukan salah perempuan dan bajunya, perempuan memang bebas pakai apapun. Eh, salah, bukan perempuan. “Orangnya”. Sebab yang diperkosa itu bukan hanya perempuan. Kemudian juga bahwa memperkosa itu kan memang dosa dan kriminalitas yang tak mesti dijalankan dan tak ada alasan untuk menjustifikasikannya. Ketika seseorang memperkosa, mau laki mau perempuan, ia binatang. Ia gagal membuktikan pada Tuhan ia berakal sehat.

“Loh tapi kan dia yang pakai baju nggak senonoh, pantas saja diperkosa.”

Tidak ada yang pantas diperkosa dan lagi, tidak ada alasan untuk menjustifikasi perbuatan itu. Masa’ hanya karena bungkus daging yang terekspos sedikit langsung napsu. Kalau sudah napsu ya, dengan akal sehat itu tahan, jangan memperkosa. Sampai rumah terus masturbasi saja, dosanya beda tipis. Lagipula kenapa pula ada yang napsu karena tetek, tetek itu kan cuma onggokan lemak. I thought society thinks fat is unhealthy.

Selain itu juga saya perhatikan dari masyarakat kita ini bahwa, tentu pelaku hakimi, tapi korban pun turut kena imbas. Dari nasihat, “Kamu sih, nggak hati-hati. ” sampai slogan fenomenal, “kejahatan tidak akan terjadi apabila anda tidak memberikan kesempatan. ” Padahal kita juga tahu kejahatan tidak akan terjadi apabila tidak dilakukan sama sekali. Dalam pikiran saya terkadang saya merasa tingkat kriminalitas yang tinggi bukan hanya didasari oleh motif perekonomian yang morat-marit. Dengan ditanami pola pikir begitu sejak kecil, bukan tidak mungkin pelaku melakukannya karena ia merasa korbanlah yang bersalah karena kurang berhati-hati dan memberikan peluang untuk menjadi korban kriminalitas. Namun bukankah semua itu hanya keadaan ideal yang berada di utopia saya semata, sedangkan saya hidup dalam realita yang pahit dan menggigit.

Suatu ketika juga saya menonton acara TV Amerika. Biasanya untuk saya jadikan bahan tertawaan karena kok bisa ya ada komunitas sendablek itu. Dalam episode itu jadi garis besarnya ada perempuan x yang datang ke pesta laki-laki y. Y ternyata mantan pacarnya x dan mereka mabuk sampai akhirnya mereka berhubungan seks dalam keadaan mabuk. Selama kira-kira 3 sampai 4 episode yang dibahas adalah melulu soal perempuan x repot meyakinkan dirinya bahwa itu adalah pemerkosaan karena ia tidak konsensual saat melakukannya. Tapi peduli setan, it’s just another American thing. Sudah tahu saya pernah ketemu orang Amerika yang merasa kalau penghinaan terhadap warna kulit itu bukan rasis? Nanti saya akan cerita lebih panjang juga. Ketika menonton saya ketawa-ketawa saja, sebab ini persis sekali bagaimana saya waktu SD menulis cerita: muter-muter, bikin puyeng, yang penting panjang dan asal ngena. Suka-suka udel saya saja. Tapi nggak dapat royalti tentunya, cuma ditulis di word 2003 dan numpuk berat-beratin memori laptop. Poin utama saya adalah pada satu episode, kawan dari perempuan x, yang juga perempuan, mengatakan, “X sudah dewasa jadi harusnya dia bisa jaga diri sendiri. Kamu gak perlu marah kalau aku ngomong begitu, sebab memang begitu perempuan. Mau gimanapun, memang perempuan harus berhati-hati. Mau gak mau. Memang sudah begitu hidup kami.”

Sampai beberapa hari ucapan kawan x itu mengiang di kepala saya. Awalnya saya pikir, kok bisa ya dia bicara begitu mengenai kaumnya sendiri. Terdengar cukup seksis dan tak adil. Padahal, setelah saya telaah lagi, setelah saya nyebur ke dalam realita sosial, memang begitu adanya. Sekali lagi saya tekankan pada diri saya sendiri bahwa ini bukanlah utopia saya. Memang benar laki-laki itu bukan binatang, tapi tak berarti tidak ada laki-laki yang memang binatang. Maksud saya laki-laki dan perempuan yang memang binatang (tolong dicatat bahwa perempuan juga bisa memperkosa laki-laki. Pemerkosaan adalah segala bentuk kegiatan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan salah satu pihak yang terlibat). Ada banyak pemerkosa yang mudah terangsang yang tersebar di pelosok negeri ini, dan kita perempuan harus senantiasa berhati-hati. Bukan berarti jadi laki adem ayem saja, tapi akibat dari pola pikir patriarkis yang menyangkut di masyarakat dunia, perempuan dianggap sebagai bangsa lemah, sehingga lebih vurnerable terhadap kriminalitas. Sedihnya pola pikir patriarkis itu turut memengaruhi (pastilah) laki-laki, dan bukan hanya secara positif tapi juga negatif. Laki-laki itu stereotipnya kan harus kuat dan tak boleh cengeng, jadi mana mungkin diperkosa? Ada berapa banyak laki-laki di dunia ini yang pernah diperkosa, dilecehkan, diabuse, oleh perempuan maupun laki-laki lain yang hanya bisa bungkam karena tuntutan sosial agar selalu menyandang gelar ‘maskulin’.

Yang kedua lebih ringan dan remeh, tapi sebenarnya cukup krusial. Perempuan-perempuan yang tak saling mendukung. Perempuan-perempuan yang saling menjatuhkan dengan opininya. Saya tak menyalahkan preferensi dan opini individual, tapi saya setuju bahwa ada opini yang mesti disampaikan dan tidak. Dalam komentar sehari-hari baik secara virtual maupun dalam realita, nyatanya masih banyak perempuan yang tega berpedas mulut.

Belum lama teman saya yang tampangnya juga gak cakep-cakep amat mendeklarasikan opini sakralnya bahwa perempuan yang pakai makeup itu palsu. Mungkin memang ada perempuan yang ketika memakai polesan wajah menjadi seratus delapanpuluh derajat berbeda dari tampang aslinya, tapi mestikah ia dicap penipu kalau ada laki-laki yang jatuh hati padanya? Saya rasa bukankah tujuan rias wajah memang agar terlihat berbeda dari asli? Dan apakah cuma tampang yang dipandang laki-laki? Tapi ya sudah, itu opini mereka. Saya tetap merasa tak perlu banyak berkomentar yang jahat-jahat pada orang lain, terlebih soal tampang, kecuali saja anda itu Megan Fox atau Emma Watson. Cuma satu yang bikin saya gondok, teman saya yang gak cakep-cakep amat itu ogah bilang perempuan yang pakai makeup itu cantik. “Ah, cantik makeup, gak suka.” Mending cuma komentar begitu, biasanya ia juga melontarkan hinaan yang tak perlu! Semoga saja di kemudian hari ia dapat menjadi individu yang cerdas sehingga ia punya lebih banyak waktu untuk berpikir tentang filsafat, budaya, serta problematika sosial sehingga tak ada waktu lagi untuk menghina perempuan yang memoles wajahnya dengan dempul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s