Di ruangan itu meski luas, ketika diisi ribuan semut pun menjadi panas. Aku di antara mereka yang mengantuk, kesemutan, dan mau pulang.

Mengenalmu, aku yakin kamu juga begitu. Entah kamu di tegel hitam/putih barisan ke berapa, yang penting kita satu udara.

“Rindu, rindu, kangen,” begitu mantraku ketika ingat kamu. Artinya, setiap hari dan detik aku jadi dukun yang komat-kamit.

Tapi kita jangan ketemu dulu, malu ah hari ini nggak pakai gincu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s