Menang, Bukan Senang

Di satu kerajaan tua, dengan seorang raja sebagai pemerintah, teraturlah barisan-barisan massa. Negara uzur itu tandus tanahnya, kering pecah-pecah dan mengeroak siap menelan siapa saja. Biarpun warga marah, tiap pagi harus saja beri salam pada Raja, menunduk mengelukan namanya. Tapi apa ada yang berontak?

Jangankan mau beraksi, bersuara saja dihukum pancung. Lalu harus berbuat apa? Tak ada. Semua cuma boleh kerja, kerja, dan kerja. “Mereka itu robot,” kata si Raja sambil tertawa, gundukan lemak di perutnya akibat kebanyakan makan babi itu bergoyang-goyang. “Boneka yang mau disuruh-suruh, yang penting aku masih bisa kasih makan. Dasar goblok semua.”

Seorang penasihatnya yang berdiri di samping singgasana ikut berkata, “Hamba turut bersuka, Paduka Raja. Hamba terhibur oleh ketaatan mereka—entah memang lugu atau bodoh, hamba tidak tahu—mudah sekali tertipu. Masa’ mblesek-mblesek sedikit, eh, langsung percaya!”

Sang Raja dipuji begitu makin terbahak-bahak. Yang penting aku kaya, begitu kata egonya. Hati reyotnya sudah terlanjur busuk diracuni rasa angkuh. Tapi apa masih ada yang segak?

Sedikitpun tidak.

Mahanipuna sudah lama geram melihat tingkah Penguasa. Tiap hari kerjanya cuma pesta pora, rakyatnya padahal masih ada yang berdahaga. Meminta hak malah jadi dosa. Mahanipuna tahu, siapapun saja sudah lelah menderita.

Makanya suatu ketika saat auman perut lebih kencang dari cicitan takut, Mahanipuna dan rodong-rodongnya menyusun rencana.

“Saya tahu, lima belas kawan kita yang lain mati dipancung si gembrot itu,” mulainya dengan suara serak menahan gusar. “Dan juga ratusan lain, yang mungkin tak kita ketahui namanya, tapi bakal selalu kita kenang atas jasa mereka.”

Semua yang hadir merunduk layu mengingat rasa pahit. Lalu temannya yang bernama Genta bangkit dan memukul meja. “Kita harus lawan dia, pagi-pagi minggu ini saya dikirimi kepala kakak saya sendiri!”

Mukanya merah, bibirnya juga bergetar, pastilah menahan tangis. Orang disebelahnya merangkul menenangkan, untung tak ditepis. Lalu dia kembali duduk, tapi tangannya masih meremas taplak putih bernoda kuning itu. Tapi apa sekotor kelakuan si Raja?

Mereka memegang erat sebuah kertas rencana. Sudah agak robek dan bolong karena rokok di beberapa titik namun masih kelihatan mata Mahanipuna sebagai penggerak. Dia mewanti-wanti terus kalau rencana ini tidak jalan cuma sehari.

Makin tangan jam bergerak ke kananpun makin banyak warga yang sedikit demi sedikit tidak mematuhi aturan. Upeti-upeti dikurangi sekeping tiap hari, para pengumpul juga nampaknya tak sadar. Penjagal diberi makan tikus yang mati kemarin, lalu disulap istri-istri penduduk menjadi seperti opor daging biasa. Apel, jeruk, dan buah-buah lain semalaman dibaluri dan disuntikkan pestisida, lalu diberikan lagi pemanis supaya rasanya samar. Si Raja malah berkomentar kalau hasil panen tahun ini luar biasa lezat.

“Ini kudeta gerilya ‘kan, Bang?” tanya salah satu awak Mahanipuna yang sedang menyiram tanaman mati dengan air bekas cucian, kalau-kalau bisa hidup lagi.

“Ya, soalnya mereka pikir kita berotak tahi.”

Lalu rencana Mahanipuna berjalan cakap. Penduduk lain bersuka cita, tinggal hitungan hari lagi si Raja bakal turun pangkat. Hewan-hewan ternak diberi makan makin banyak, supaya gemuk dan lezat disantap kelak.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Raja mengumumkan dirinya butuh tabib, dan siapapun yang bisa mengangkat penyakitnya itu bakal diberi sekantung emas. Mahanipuna lalu menyanggupi.

“Apa yang kau bawa?” tanya sang Raja yang pucat. Bagian tubuhnya yang menggunung hanya perut, lainnya ceking berkerut-kerut karena urat.

“Tak ada Yang Mulia,” jawab Mahanipuna tenang. Sesaat sebelum sang Raja akan memerintahkan pengawal-pengawalnya yang terlihat tak sehat  itu untuk mencongkel keluar mata Mahanipuna, laki-laki berani itu membuka mulutnya kembali dan membuka sebuah gulungan kertas.

“Tapi hamba ada ini Yang Mulia,” katanya mantap.

“Apa itu? Tanaman?”

“Oh, Yang Mulia. Sesungguhnya ini bukan tanaman sekadar tanaman—namanya sambiloto dan brotowali. Berkhasiat sekali untuk segala penyakit.”

“Benarkah itu?” tanya Raja. Secercah harapan muncul di angannya.

“Ya, tentu Yang Mulia. Tapi…”

“Ada apa? Harganya berapa? Berapapun akan kubayar!”

“Ah, kalau hamba jadi engkau, bukan uang yang hamba khawatirkan.”

“Lalu apa gerangan?”

“Ini hanya cukup untuk seorang saja, Tuan. Bukankah warga istanamu juga membutuhkan ini—pengawal dan pegawaimu?”

Raja membelalak, begitu juga penasihat dan pengawal-pengawalnya. “Sinting kamu, ya?! Aku rajanya, jadi aku boleh berlaku bagaimana saja! Ini milikku!”

Penasihat menahan Raja untuk mengambil langkah lagi. “Tapi Tuanku, tanpa hamba, mampukah Tuan mengambil keputusan untuk kerajaan ini?”

Raja berhenti, lalu memutar otak. Tapi lalu kembali berjalan lagi ke arah Mahanipuna, kini agak cepat langkahnya sambil berucap, “Kamu ada benarnya, di luar masih banyak pengangguran, ‘kan.”

Lalu saat Mahanipuna sudah di depan mata, sebuah tangan kekar mencengkram lagi lengan kurus Raja. “Tapi tuanku, tanpa hamba, Tuan tak ada yang melindungi.”

Lalu Raja tertawa. “Masih banyak preman yang butuh uang di luar!”

Mahanipuna menahan senyumnya. Penasihat menahan gondoknya. Pengawal menahan jotosnya.

Tapi Raja tak pernah menahan dirinya.

Ketika tangan ringkih itu hendak meraih dua tanaman yang dipegang laki-laki di depannya, cairan amis menyembur ke wajah si Mahanipuna. Begitu kental dan hangat. Giginya yang agak bergemeletuk ditahannya kuat-kuat.

“Gila! Gila! Gila!” suaranya nyaring memecah keheningan. “Gila! Gila! Gila!” Begitu terus diulangi.

Pengawal terpaku saja, seolah diikat oleh bayangannya sendiri. Bunyi cabikan daging masih menggema di ruang singgasana. Penasihat masih belum berhenti.

“Sudah hidup-mati begini masih egois! Gila, gila, gila! Mati saja, gila!” pekik sang penasihat. Kemudian seolah iblis yang merasukinya lenyap, pedang yang dia hunuskan berkali-kali ke tubuh sang Raja dihempaskan; disambut dengan nyaring gemerincing besi.

“Kenapa kamu bunuh dia, Penasihat?!” sang pengawal seperti bangkit dari tidurnya. Pedangnya yang barusan digunakan untuk membunuh atasannya itu dia ambil kembali dengan tangan gemetar. Algojo macam apa yang takut darah, pikir Mahanipuna.

“Dia mau membunuh kita semua, tahu! Ini macam hukum rimba saja—supaya tidak terbunuh ya, membunuhlah!” bela penasihat yang kini memegang sambiloto dan brotowali seolah menggendong bayinya sendiri.

Mahanipuna bangkit. “Hanguslah negara ini! Tanpa seorang Raja, bagaimana bisa berdiri!”

Akibat provokasi Mahanipuna itu, roda-roda di otak pengawal bak kembali berputar. Pedang yang tadi hendak diletakkan kembali di kantung dekat selangkangannya itu diangkat lagi untuk dihunuskan sekali saja tepat di jantung si Penasihat. Penasihat mati.

Tangannya menggeletar, lalu dirangkullah Ia oleh Mahanipuna. “Memang yang pertama itu tidak mudah. Bersukacitalah, kawan. Ini milikmu. Kau pemegang tahta,” hibur Mahanipuna. Namun setelah menemukan sadarnya, pengawal menggeleng. “Tidak,” ujarnya. “Tidak. Bukan saya, Tuan. Bukan. Tapi Tuan. Pimpinlah kami, Tuan. Saya hanya mampu menghamba bukan meraja.”

“Hah, sehat kamu? Kamu menolak jadi Raja?”

“Lagi, Tuan, saya hanya mampu menghamba bukan meraja.”

“Selamanya kamu mau jadi budak? Tak mau ada perubahan kah?”

“Perubahan Engkau yang buat, Tuan.”

Mahanipuna memang bingung, tapi ia ada senangnya juga. Ia pikir, memang orang bodoh kalau biasa jadi budak akan selamanya budak, tak seperti aku yang cerdas. Kasihan juga rakyat-rakyat ini kalau dipimpin oleh orang tolol, apa jadinya nanti?

“Kalau menurutmu aku pantas jadi Raja, maka aku akan jadi Raja,” kata Mahanipuna sambil naik ke singgasana. “Nah, aku mau mulai minggu depan upeti dinaikkan 15%.”


Ditulis 1 Oktober 2015 untuk tugas Sastra Indonesia, dengan perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s