Menghidupi Asumsi

“Kesempurnaan itu terasa begitu dekat, Ani. Belum pernah aku melihatnya—dan bahkan sempat meraba pula!”
“Bagaimana, lagak lelaki itu? Adabnya? Parasnya? Apanya yang sempurna?”
“Seluruhnya!”Perempuan itu meloncat naik ke meja, begitu bahagia ia merasa. Ditatapnya Ani, sang kawan, dengan bergembira.
“Naruna namanya. Run, Runaa… begitu ibunya memanggil. Mereka tetangga baru asal Bogor! Baru pindah ke rumah bekas Bu Njoto tadi subuh, dan coba tebak?”
“Apa?”
“Aku mengintip sedikit ia punya apa di boks-boksnya. Kukira, yah, ada lah satu atau dua majalah dewasa. Tapi ternyata! Astaga naga—belum pernah aku melihat buku sebanyak itu, Ni! Ada tidak kurang dari sepuluh boks berisikan buku. Buku filsafat, sejarah, semua ia punya! Masih ada lagi, katanya, yang akan diantar kurir malam nanti! Luar biasa!”
Ani diam saja, matanya mengekori gelagat sang sahib yang kini berjalan keliling ruang tamu kecil itu sambil berputar-putar. Setelah beberapa putaran, barulah ia kembali duduk di samping Ani, lalu menatapnya lekat-lekat. Ani memasang badan—nah, sekarang barulah dia akan menanggapi.
“Ni, kamu tahu kan, aku senang laki-laki cerdas?”
“Ya, aku tahu betul, Nar. Sering kau menyebutkan perihal itu kepadaku.”
“Dan kamu tahu, Naruna itu tak hanya cerdas tapi juga berwawasan luas?”
“Loh, itu aku tidak tahu! Kami belum pernah bertatap muka, mana boleh aku berprasangka!”
“Kalau begitu mari kuberitahu. Ni, bahwa Naruna itu wujud dari impianku selama ini. Aku telah jatuh cinta!”
“Di pertemuan pertama?”
“Di pandangan pertama.”
“Tapi kukira, Nar, kau bukan model yang memercayai hal itu?”
“Memang bukan. ‘Kan, berbicara lebih mudah dari berbuat.”
“Lalu kau mau apa?”
“Menikahinya.”
Mata Ani hampir saja melompat keluar. Ani tahu, sahabatnya itu memang kadang-kadang seperti orang kurang akal. Tapi gagasan ini yang paling sinting menurutnya!
“Tahu darimana kamu, ia bukan lakinya siapa-siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Minara kemudian melenggang keluar, seolah ucapannya tadi tak bermakna apa-apa. Ani yang bingung hanya melongo mengikuti. Mereka berdua tak sadar, ada sesosok bayangan yang memerhatikan mereka sejak tadi. Berdiri, menunggu, tepat di bawah pohon duku.
***
“Iya benar, bos. Begitu ceritanya. Sumpah, saya tidak mengada-ngada,” lapor Sobri. Tentu ia tiada mengada-ngada, hanya menambah bumbu di sana-sini, biar pedas sedikit lah. “Ia bilang, Narunanya juga sudah setuju, kok. Tinggal tentuin tanggal main aja.”
Mendengarnya, kepala Badrun menjadi panas sekali. Gile, pikirnya. Perawan yang udah gue tag dari masih orok mau diembat sama anak kemarin sore! Belum juga sore, baru datang tadi pagi!
“Lhu ada ide, nggak? Buat musnahin tuh, si karang taruna?”
“Naruna, bos.”“Ssstt, suka-suka gua! Jadi, ada nggak?”
Bahkan tanpa memutar otak sedikitpun, Sobri berkelit, “Maap, bos. Nggak ade.”
“Ck, gue lupa, jangankan ide, otaknye aje lhu nggak punya!”
Jari-jari penuh cincin Badrun akhirnya memencet-mencet tombol remote teve, untuk sejenak mengendalikan emosi, sekaligus mencari solusi. Bagaimanapun juga Naruna tidak boleh menikahi Minara, sebab Minara itu calon bininya yang keenam. Biar genap, begitu rencananya. Dengan dahi berkerut, dicermatinya acara teve baik-baik. Setan alas, siang itu teve penuh dengan sinetron! Benci sekali Badrun dengan plot ‘orang jahat selalu kalah’, padahal kenyataannya bagaimana? “Contohnya aku,” ucap Badrun dalam hati yang sadar akan kehitaman jiwanya, namun bangga. “Coba aku baik begitu, menye-menye seperti yang di teve. Bah, mana mungkin aku bisa punya lima istri? Mana mungkin aku jadi makelar tanah? Mana mungkin rumahku tersebar di pelosok ibukota? Mana mungkin juga aku begitu berkuasa di komplek ini, sampai-sampai tak ada yang berani protes ketika anaknya kuperkosa! Lihat saja itu—orang-orang baik pasti hidupnya susah!”
Badrun tertawa, ia merasa lebih baik setelah kembali mengingat bahwa ia yang pegang kuasa. Kemudian di tengah-tengah tawanya, jarinya berhenti mengganti saluran teve. Tawanya semakin kencang! Ia mendapat ilham!
“Nah, gue tahu harus berbuat apa. Sobr—Eh, Sobri! Sobri, ke mane lhu?! Belum apa-apa udah ngilang aje! Woi, itu semur jengkol taruh dulu, oon! Kemari dulu, gue mau ngomong.”
Dengan tergopoh-gopoh dan masih membawa piring makannya, Sobri menghampiri sang bos. Badrun menyeringai, lalu membisikkan rencananya untuk dilaksanakan oleh Sobri dan kawan-kawan.
Dengan mulut penuh nasi dan senyum tak kalah keji, Sobri menjawab, “Nggak mungkin, bos!”
***
Suatu sore, kira-kira pukul empat, Naruna dan Minara berjalan-jalan di taman komplek. Sudah jadi rutinitas sejoli itu selama tiga bulan terakhir ini. Ani kagum, begitu hausnya Minara akan sosok laki-laki yang gemar membaca, sampai ia tak sempat lagi menunda. Kerja mereka adalah bercerita, berdiskusi, dan saling mencinta. Ani tak tahu lagi, entahlah itu berkat kegigihan Minara dalam berusaha, atau itu hanya kemujurannya belaka sehingga berhasil mendapatkan lelaki yang ia puja. Yang pasti, muda-mudi itu tak lagi dapat terpisah.
Sore itu juga, sambil duduk-duduk, mereka berbincang mengenai problematika dunia yang berimbas pada negara. Mereka berdebat, terdengar begitu sengit, hampir seperti bertengkar, namun diakhiri tawa. “Orang-orang akan mengira kita cekcok. Padahal kita baik-baik saja,” kata Naruna memandang riang kekasihnya.
“Padahal menurutku debat intelektual itu sangat penting, loh,” Minara menimpali.
“Oh, jadi kamu menganggap aku ini juga intelek?”
“Ya, tentu! Tapi tidak sehebat aku.”
Mereka kembali tertawa. Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara massa, “Itu dia orangnya!”
Begitu riuh, wajah-wajah yang nampak adalah mereka yang juga Minara kenal. “Ada apa ini?!” bentak Minara ketika tahu kekasihnya dituding-tuding. “Mau apa kalian? Heee, bapak-bapak! Itu arit dan pistolnya tak usah diacung-acungkan begitu, saya tidak takut!”
“Minggir, Nar!” Bapak Minara menyembul keluar dari barisan. “Pacarmu itu sudah memerkosa anaknya Pak Rudy, si Halimah! Semalam ia pulang berdarah-darah, bilangnya diperkosa Naruna!”
“Atas bukti apa?”
Bapaknya tak mampu menjawab itu. Mana dia tahu? Kan dia cuma disuruh Sobri. Nah, ya, si Sobri! Laki-laki kribo itu kini membuka mulut, “Ah, sudah jelas dia yang memerkosa! Betul, ‘kan, Run? Hayo, ngaku!”
“Demi Tuhan, Nar. Belum pernah ada seorang perempuan pun yang aku sentuh!” Naruna membela diri, pledoinya tak diragukan Minara. “Eh, munafik! Yang ngajak ngomong lhu tuh, gue! Kenapa ngelihatnya ke Minara?” hardik Sobri sinis. “Sudahlah, mana ada juga maling yang ngaku? Kalo ada penjara ya pasti penuh! Langsung caw aje!”
Baru Sobri mengangkat tangannya sebagai komando untuk mengerubungi Naruna, hanya untuk mengerubungi, tapi sebuah peluru tiba-tiba dimuntahkan dengan seenaknya. Yang melepaskannya entah siapa, mungkin sudah lari kabur ke mana, sementara sang peluru berputar-putar cepat dan liar, bersiap mencengkram nyawa si mangsa. Begitu cepat, hingga Naruna yang tanggap pun sudah tak mampu bergerak. Tapi rupa-rupanya Minara yang cerdas itu sempat meloncat begitu dengar suara pletokan hebat. Dipeluknya Naruna yang masih termangu-mangu. Massa bangsat itu berhamburan semua. Bapak Minara melolong minta tolong.
Darah menyembur dari kepala Minara. Ketika sang kekasih rubuh, Naruna sigap menangkapnya. Perempuan yang baru tiga bulan jadi miliknya itu akan pergi, ia tahu. Air matanya bercucuran, turut membasahi pipi Minara.
“Ssh,” jari Minara diarahkan ke bibir Naruna. “Aku mencintai kamu… Tahu, ‘kan?”
“Aku juga, aku juga…” Naruna tak pandai berkata-kata lagi, semua pengetahuannya akan bahasa sudah membatu. Ia berubah bodoh, akhirnya semua yang ingin ia sampaikan, ia larutkan ke dalam ciuman. Sebuah ciuman pertama yang manis dan berkesan. Minara membalas; seluruh tubuhnya mungkin lumpuh, tapi hati kecilnya merasa bahagia bukan kepalang. Naruna juga sama—tapi tak sampai lima detik, ciumannya tak lagi berbalas. Ia hanya mencumbui mayat. Mayat yang cantik dan juga tersenyum. Naruna memandanginya dengan menyesal, “Permataku mati, karena aku,” begitu pikirnya. Beberapa saat kemudian mata gesitnya tiba-tiba menangkap sesuatu.
Maka begitu mayat itu berpindah tangan ke Bapak Minara yang sudah meratap-ratap, Naruna tak lagi menunggu. Persis seperti Minara yang tak pernah menunggu untuk mencintainya di kali pertama mereka ketemu. Jadi diambilnya benda mungil itu dan,
“Dor.”
Peluru kembali dimuntahkan.


Tulisan ini dibuat pada tahun 2016 untuk sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan salah satu universitas di Malang. Saya tidak menang dan betul-betul gondok waktu itu, pasalnya bagi saya yang bagus hanya sang juara pertama. Yang kedua dan ketiga, yah, meh. Tapi sekarang saya sadar dengan berpikir begitu berarti saya telah berbuat angkuh. Sekarang pun kalau saya baca-baca lagi cerpen ini juga tak bagus-bagus amat. Kurang ada koneksi dengan pembaca dan transisi dari satu skena ke yang lainnya tidak terlalu mulus. Namanya juga remaja 16 tahun. Mungkin nanti kalau ada waktu saya akan menulis kembali cerita ini.

Nb. Sekadar info, pada tahun itu saya lagi naksir-naksirnya sama Soe Hok Gie.

Suntingan minor yang tidak memengaruhi orisinalitas alur cerpen (pengubahan ejaan, tanda baca) telah dibuat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s