Ke Mana Kereta Hari Ini?

            Setelah dua cangkir teh kemanisan, sepiring nasi kentang balado, dan sepotong pisang goreng dingin habis, baru aku pamit. Perut telah kenyang makanya aku rela pulang. “Tante, maaf ngerepotin, ya,” kataku basa-basi sambal salim dan berjalan keluar gerbang. Kata tante, karena sedang ada kawinan, tukang ojek tidak bisa masuk gang. Harus keluar melewati palang ke pangkalan ojek di bawah pohon mangga dekat gapura masjid. Di sana ojek pesananku sudah menunggu, lumayan lama katanya. Tapi tak apa, si bapak bilang, “namanya juga banting tulang.”

           Tanpa aku sangka-sangka pagi itu terik dan jalanan macet sekali. Kendaraan-kendaraan yang dempet-dempet, semua buru-buru dan saling menyalip seolah kiamat nanti sore dan orang-orang takut tidak kedapatan selfie. Dua puluhan menit dipanggang di atas aspal jalan raya, kulitku sudah mati rasa dibunuh panas surya, telingaku juga pekak karena bising motor kendaraan roda empat apalagi dua. Namun sayup masih terdengar alunan dangdut ngajak berdansa. Ketika lagu habis baru aku teringat lagi akan panas yang tidak ada sudah-sudahnya, oh kulitku belum mati ternyata. Akhir lagu adalah awal realitaku. Aku berdecak seakan keluhanku akan didengar dan Tuhan akan langsung mengosongkan jalanan. Setidaknya angin masih berembus. Setiap embusan, barang sepersekian detik pun, aku bilang alhamdulillah. Ia ternyata anugerah luar biasa, baru aku sadari kerjanya usai aku ditempa panas dan dahaga.

           Aku melirik rel kereta yang sejalur dengan jalan pulangku dengan iri. Kalau saja aku, meski belum mandi, tadi pulang naik kereta, maka aku tidak perlu panas-panasan. Malah enak dimanja AC, dan kalau beruntung, kalau tidak mesti ketemu ibu-ibu Tanah Abang, aku bisa duduk bebas leluasa lalu tidur sampai stasiun dekat rumah.

           Namun tidak ada. Dari tadi sama sekali tidak ada kereta yang lewat.

           Ke mana kereta hari ini?

           Aku ingat juga kalau hari ini kawanku mau kemah di Sukabumi, naik kereta dari stasiun Bogor, tapi ketemuan dulu dengan teman-temannya di stasiun UI. Jadi tidak, ya, dia pergi? Soalnya kereta tidak ada. Atau mungkin tadi sudah lewat tapi aku saja yang tidak lihat. Ia lewat diam-diam supaya aku tidak tahu, mungkin ia takut padaku? Entah, mungkin juga ia telah lewat dengan sebuah maklumat dan aku yang telanjur tenggelam dalam duniaku memang terlalu tak acuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s