I thought I have forgotten
Just how to love you
When it only gets harder
To not to

Advertisements

Watched Ocean’s 8 last night, amazing movie. Certainly the action-comedy movie type where the pinnacle is the latter, and it’s pure genius. Recommended for all the aspiring criminals to be. 10 minutes in and I was all over Sandy Bullock’s (as referred by Anne Hathaway) ways with her hands—and of course, all over Bullock herself. It is out of my ordinary to watch a movie as soon as it’s out in the cinemas, but all the good reviews and great cast selections just left me with no option. Then I went back to the trailer which was dropped circa 5 months ago just to find lots of hideous comments on how it’s unoriginal and just another feminism flop. With no surprise, naturally all of the comments were written by men. Really, ‘cause the last time I checked they’re still the privileged ones (specially if they’re white). Feminism what? Feminism dope. It’s another win for feminism.

(Peeps, you shouldn’t sleep on the fact that the cast members, although not wholly, represent various communities and comes with different body shapes and everyone is beautiful. Especially during the scene where they all make the grand entrance in dresses. Just. Pure. Jaw. Dropping.)

Sedang nonton The Addams Family yang tahun 1964, masih di episode 4. Bingung bagaimana caranya telah hidup 18 tahun tanpa pernah menonton satu episode pun. Kocak dan menggelitik, masih ada satire sedikit-sedikit. Dari perhatian saya rumus dasar dagelannya adalah kesalahpahaman yang tidak diluruskan. Andai bisa begitu, miskomunikasi sana-sini tapi hidup masih seperti yang kita mau.

Ke Mana Kereta Hari Ini?

            Setelah dua cangkir teh kemanisan, sepiring nasi kentang balado, dan sepotong pisang goreng dingin habis, baru aku pamit. Perut telah kenyang makanya aku rela pulang. “Tante, maaf ngerepotin, ya,” kataku basa-basi sambal salim dan berjalan keluar gerbang. Kata tante, karena sedang ada kawinan, tukang ojek tidak bisa masuk gang. Harus keluar melewati palang ke pangkalan ojek di bawah pohon mangga dekat gapura masjid. Di sana ojek pesananku sudah menunggu, lumayan lama katanya. Tapi tak apa, si bapak bilang, “namanya juga banting tulang.” Continue reading

            Halo, bagaimana kabarmu? Kabar baik bagiku, kalau kamu mau peduli.

            Terakhir kita bersua telah lama sekali. Yang aku ingat kita duduk bersebelahan, aku makan ayam sambil ngobrol denganmu sama teman-teman yang lain juga. Aku tertawa karena yang kamu bicarakan itu aneh, teman-teman juga bilang padaku kalau kamu orang aneh. Tapi karena aku juga aneh, jadi tidak apa-apa…


Drabble yang saya kirim lewat surel pada tanggal 1 Agustus 2017. Surel itu akan saya hapus setelah ini.

Hush, Hush, My Night Prince

Dear my night prince,
Fly, fly, you go
Spread the dark wings
You have yet to grow

Such a strong youth you have become
Even with arrow in heart
Poison in veins
You stood up and raise and fight

To give hope, to give dream, to give joy

My, my,
My brave prince,
It was a long journey you’ve walked
In this very same path
We were together

Sleep, sleep now,
My bleeding prince,
Another long journey awaits
With no more pain haunts you
With my prayer follows too

I cry now,
My night prince,
But know our reunion is fate
And that day shall come
But this once,
You will have your peace
You’ve longed to reach


My black cat passed away last night, I waited to be alone to cry. Goodbye, Toothless, you will be missed, dearly.

Puisi Kesatu Untukmu

Ini puisiku yang pertama
Buatmu di terakhir Januari:

Esok telah beda hari,
Berarti pertemuan kaku tak menentu milik kita
Akan kembali terjadi

Telah kusampaikan pada bung kala, “Jangan kau terlalu berapi-api, Bung,
Mengejar-ngejar kami agar lebih segera
Menghirup lagi asap rokok terkutuk
Yang tak lama akan punah (semoga)
Yang sejalan dengan runtuhnya bangunan tempat aku jatuh cinta padanya dulu.”

Tenang, sayang,
Akan dibangunkan kembali yang lebih megah dan asri
Untuk kita berdua dan semua
Walau tak akan sama ー sebab hanya di tempat lama mata kita sering berjumpa;
Sebab hanya di tempat lama jantungku melompat tiap hadirmu ada

Tapi siapa tahu saja, pada kerucut yang baru,
Kita tak hanya pandang mata namun juga saling jatuh cinta.


Karena Kantin Sastra sedang direnovasi dan yang baru tidak akan sama.