Watched Ocean’s 8 last night, amazing movie. Certainly the action-comedy movie type where the pinnacle is the latter, but it’s pure genius. Recommended for all the aspiring criminals to be. 10 minutes in and I was all over Sandy Bullock’s (as referred by Anne Hathaway) ways with her hands—and of course, all over Bullock herself. It is out of my ordinary to watch a movie as soon as it’s out in the cinemas, but all the good reviews and great cast selections just left me with no option. Then I went back to the trailer which was dropped circa 5 months ago just to find lots of hideous comments on how it’s unoriginal and just another feminism flop. With no surprise, naturally all of the comments were written by men. Really, ‘cause the last time I checked they’re still the privileged ones (specially if they’re white). Feminism what? Feminism dope. It’s another win for feminism.

(Peeps, you shouldn’t sleep on the fact that the cast members, although not wholly, represent various communities and comes with different body shapes and everyone is beautiful. Especially during the scene where they all make the grand entrance in dresses. Just. Pure. Jaw. Dropping.)

Advertisements

Cerita Calon Arang: Camilan Tepat untuk Calon Penikmat Sastra

          Di kelas, saya sering dipandang sebagai ‘calon sastrawan’. Padahal saya lebih ingin dilihat sebagai seniman, sebagai pelukis. Tapi hobi saya yang itu tak begitu baik rupanya, sehingga yang dipandang terus adalah tulisan-tulisan saya (yang juga sebenarnya tak begitu baik). Lalu suatu hari ada kawan saya datang menghampiri minta diberi saran bacaan bagus, berbobot sastra. “Kan kita anak bahasa,” kata dia begitu. Tapi dia minta, supaya tak berat-berat dahulu. Jangan langsung disodori bahasa plitat-plitut, bisa gila dia, katanya. Lama saya pikirkan apa yang cocok buat ia: bacaan ringan yang menghibur, tapi tetap sarat akan makna estetis sastra murni (bukan abal!). Lalu tiga hari lalu, saya pinjam buku di perpustakaan—Cerita Calon Arang judulnya. Continue reading

Selera Anda yang Jelek!

            Saya sedang agak menyangsikan satu hal, namun tetap Saya pendam dalam hati. Hal ini tentu membuat kesal, dan saya dilarang mengemukakannya (oleh diri saya sendiri, lagipula yang bersangkutan terlalu bodoh untuk mengerti), makanya Saya tumpahkan semua uneg-uneg Saya di sini. Awalnya Saya hendak menulis dalam Bahasa Inggris, tetapi kenapa ya, dalam bahasa itu kok kesan ‘marah’ Saya tidak terlalu kentara? Benar kata ibu Saya: marah-marah dalam bahasa sendiri memang paling pol! Continue reading