Cerita Calon Arang: Camilan Tepat untuk Calon Penikmat Sastra

          Di kelas, saya sering dipandang sebagai ‘calon sastrawan’. Padahal saya lebih ingin dilihat sebagai seniman, sebagai pelukis. Tapi hobi saya yang itu tak begitu baik rupanya, sehingga yang dipandang terus adalah tulisan-tulisan saya (yang juga sebenarnya tak begitu baik). Lalu suatu hari ada kawan saya datang menghampiri minta diberi saran bacaan bagus, berbobot sastra. “Kan kita anak bahasa,” kata dia begitu. Tapi dia minta, supaya tak berat-berat dahulu. Jangan langsung disodori bahasa plitat-plitut, bisa gila dia, katanya. Lama saya pikirkan apa yang cocok buat ia: bacaan ringan yang menghibur, tapi tetap sarat akan makna estetis sastra murni (bukan abal!). Lalu tiga hari lalu, saya pinjam buku di perpustakaan—Cerita Calon Arang judulnya. Continue reading

Selera Anda yang Jelek!

            Saya sedang agak menyangsikan satu hal, namun tetap Saya pendam dalam hati. Hal ini tentu membuat kesal, dan saya dilarang mengemukakannya (oleh diri saya sendiri, lagipula yang bersangkutan terlalu bodoh untuk mengerti), makanya Saya tumpahkan semua uneg-uneg Saya di sini. Awalnya Saya hendak menulis dalam Bahasa Inggris, tetapi kenapa ya, dalam bahasa itu kok kesan ‘marah’ Saya tidak terlalu kentara? Benar kata ibu Saya: marah-marah dalam bahasa sendiri memang paling pol! Continue reading