Pasca Hujan dan Kenyang

Pukul nol-nol:

Aku mau kamu tahu

seluk dan beluk tubuhku

Aku mau kamu tahu

Kalau aku tahu kamu juga mau.

Advertisements

Woro-Woro untuk Para Durjana

Ah, brengsek

Anjing,

Bangsat.

Kalau bisa peluru nyasar di kepalamu,

Sudah kueksekusi di tempat.

 

Aku boleh jelek dan gendut,

Hitam dan bacot,

Tapi apa itu berarti kamu boleh

Jadi sialan dan bajingan?

Sekali-kali jangan mikir dengan kontolmu

Sebab aku bukan perempuan-perempuanmu,

Yang diremas teteknya,

Dielus pahanya,

Atau dicium bibirnya

Dan tidak apa-apa.

Aku ini aku

Yang mungkin lemah dan manja

Tapi punya prinsip dan takhta

Takhta dan mahkota mulia

Milik seorang wanita.

Saksikanlah kerumunan orang tak kukenal,

Yang dahulu kupercaya karena begitu naif:

“Aku dan harga diriku yang mahal tak akan tunduk pada ia yang menginjak-injak perempuan.”

Romansa dan Lain Hal

Perbudakan telah diperparah oleh orang-orang berpita hitam. Tapi di antaranya ada yang telah bikin kesengsem. Tak jadi, hari itu perang dibatalkan. Semua pulang. Tapi sedikit-sedikit masih curi pandang ke belakang, penasaran.


‘tak – bentak

‘ték – juték

‘kak – kakak

manisé rék


Yang hujan turun lagi

Sepayung aku mau berdua jangan sendiri

Eh, semoga kamu tidak ada yang cari,

Sebab mulai timbul perkara hati.

 

Ditulis dalam rentang waktu 14-19 Agustus 2017.

Di ruangan itu meski luas, ketika diisi ribuan semut pun menjadi panas. Aku di antara mereka yang mengantuk, kesemutan, dan mau pulang.

Mengenalmu, aku yakin kamu juga begitu. Entah kamu di tegel hitam/putih barisan ke berapa, yang penting kita satu udara.

“Rindu, rindu, kangen,” begitu mantraku ketika ingat kamu. Artinya, setiap hari dan detik aku jadi dukun yang komat-kamit.

Tapi kita jangan ketemu dulu, malu ah hari ini nggak pakai gincu.

Siapa Menyalah Siapa Bersalah

Air-airnya jatuh berkat samudra yang melubangi telungkup
Telah lolos tetapi masih memberi senyum yang berkabur-kaburan
Tapi sebetulnya bukan karena bocor, air-air itu kembali jatuh
Namun berkat gerigi-gerigi duri dan gigi yang menerkam putri
Berkobar membakar jadi api
Tolonglah tolong,
Baginda bukan dewi hanya seorang putri.

Asas Mencinta Dalam Kuantitas

​Dibatas samudra yang berbeda

Tapi dinaung langit yang sama

Hanya gemintang yang tak setara

Lalu bagaimana?
Manusia yang dikotak-kotakkan jarak,

Padahal juga sama terikat

Oleh oksigen, gravitasi, lalu harkat

Dan merasa Tuhan itu ada,

Tapi tetap serat bersua
Saya nafas di sini,

Kamu tahu?

Di antara massa yang memekik di telinga,

Aku salah satunya
Ini memang cinta kedap suara

Saya sih tidak apa-apa

Cuma tolong jangan cinta lain wanita

Bikin saya sakit mata dan dada

Ini dibuat waktu saya dalam perjalanan ke sekolah (naik ojek) tahun lalu. Kebetulan sedang bongkar-bongkar folder nilai kelas 2 dan ketemu kertas bertuliskan puisi ini yang dibuat untuk pelajaran sastra Indonesia.

di Malam Habis dari Makammu

Di malam habis dari makammu,
Hujan
Begitu deras begitu halus
Mematikan sunyi yang menggalakkan rindu
Katanya aku yang sepi ini telah mati rasa
Sebab semua yang kuberi rasa telah mati pertama

Sayang, di malam habis dari makammu,
Aku merenung
Bagaimana tiada mungkin lagi
Jari-jari kita terjalin
Bibir kita berbisik
Dan mata kita bertatap

Rupamu tak pernah kurekam
Suaramu tak pernah terdengar

Tentang kita tak pernah tersiar

Kenangan tentangmu melompong
Hanya buku yang jadi perantara

Tapi, sayang,
Di makammu aku menangis
Bila bukan cinta lalu ini apa,
Seonggok tahi yang mau mengorek luka?

Sayang, sayang,
Matiku nanti untuk jumpa kau.

Dialog Dalam Bilik-Bilik Surga

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan akan menjadikanku wanita
Agak gundah aku karenanya!
Kabar berkata, aku ini bakal jadi makhluk terjajah?

Yang bodoh dan tak terpelajar,
Budak seks dan perpelacuran,
Yang dipaksa tapi juga yang dijadikan liang dosa,
Yang diikat kasta dan mengundang murka!,
Tuhan, buatlah aku jadi laki-laki saja!

Yang bebas telanjang tanpa dihinakan,
Yang cerdas dan yang terdepan,
Tak bakal pula ada persoalan degradasi serta objektifikasi, sebab toh laki-laki yang bakal menjalankan?
Buat aku jadi laki-laki saja, Tuhan!

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan kembali tersenyum dan berkata,
“Kamu bakal jadi wanita dan mulia. Karena semua wanita itu mulia.
Mereka yang mencerca itu bukanlah Aku.
Dan semua wanita akan tetap mulia, sebagaimanapun mereka hina.
Yang hina pun akan mulia, kecuali mereka yang coba-coba jadi Aku.”