Di ruangan itu meski luas, ketika diisi ribuan semut pun menjadi panas. Aku di antara mereka yang mengantuk, kesemutan, dan mau pulang.

Mengenalmu, aku yakin kamu juga begitu. Entah kamu di tegel hitam/putih barisan ke berapa, yang penting kita satu udara.

“Rindu, rindu, kangen,” begitu mantraku ketika ingat kamu. Artinya, setiap hari dan detik aku jadi dukun yang komat-kamit.

Tapi kita jangan ketemu dulu, malu ah hari ini nggak pakai gincu.

Siapa Menyalah Siapa Bersalah

Air-airnya jatuh berkat samudra yang melubangi telungkup
Telah lolos tetapi masih memberi senyum yang berkabur-kaburan
Tapi sebetulnya bukan karena bocor, air-air itu kembali jatuh
Namun berkat gerigi-gerigi duri dan gigi yang menerkam putri
Berkobar membakar jadi api
Tolonglah tolong,
Baginda bukan dewi hanya seorang putri.

Asas Mencinta Dalam Kuantitas

​Dibatas samudra yang berbeda

Tapi dinaung langit yang sama

Hanya gemintang yang tak setara

Lalu bagaimana?
Manusia yang dikotak-kotakkan jarak,

Padahal juga sama terikat

Oleh oksigen, gravitasi, lalu harkat

Dan merasa Tuhan itu ada,

Tapi tetap serat bersua
Saya nafas di sini,

Kamu tahu?

Di antara massa yang memekik di telinga,

Aku salah satunya
Ini memang cinta kedap suara

Saya sih tidak apa-apa

Cuma tolong jangan cinta lain wanita

Bikin saya sakit mata dan dada

Ini dibuat waktu saya dalam perjalanan ke sekolah (naik ojek) tahun lalu. Kebetulan sedang bongkar-bongkar folder nilai kelas 2 dan ketemu kertas bertuliskan puisi ini yang dibuat untuk pelajaran sastra Indonesia.

di Malam Habis dari Makammu

Di malam habis dari makammu,
Hujan
Begitu deras begitu halus
Mematikan sunyi yang menggalakkan rindu
Katanya aku yang sepi ini telah mati rasa
Sebab semua yang kuberi rasa telah mati pertama

Sayang, di malam habis dari makammu,
Aku merenung
Bagaimana tiada mungkin lagi
Jari-jari kita terjalin
Bibir kita berbisik
Dan mata kita bertatap

Rupamu tak pernah kurekam
Suaramu tak pernah terdengar

Tentang kita tak pernah tersiar

Kenangan tentangmu melompong
Hanya buku yang jadi perantara

Tapi, sayang,
Di makammu aku menangis
Bila bukan cinta lalu ini apa,
Seonggok tahi yang mau mengorek luka?

Sayang, sayang,
Matiku nanti untuk jumpa kau.

Dialog Dalam Bilik-Bilik Surga

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan akan menjadikanku wanita
Agak gundah aku karenanya!
Kabar berkata, aku ini bakal jadi makhluk terjajah?

Yang bodoh dan tak terpelajar,
Budak seks dan perpelacuran,
Yang dipaksa tapi juga yang dijadikan liang dosa,
Yang diikat kasta dan mengundang murka!,
Tuhan, buatlah aku jadi laki-laki saja!

Yang bebas telanjang tanpa dihinakan,
Yang cerdas dan yang terdepan,
Tak bakal pula ada persoalan degradasi serta objektifikasi, sebab toh laki-laki yang bakal menjalankan?
Buat aku jadi laki-laki saja, Tuhan!

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan kembali tersenyum dan berkata,
“Kamu bakal jadi wanita dan mulia. Karena semua wanita itu mulia.
Mereka yang mencerca itu bukanlah Aku.
Dan semua wanita akan tetap mulia, sebagaimanapun mereka hina.
Yang hina pun akan mulia, kecuali mereka yang coba-coba jadi Aku.”

A Message for The Stars

I stood up behind my window,

looking up, eager to see you,

But you were not in sight,

Or anywhere.

Nor you,

neither your friends.

I felt lonely for a bit.

Then you showed up,

Flickering—red, white, red, white—to the same pattern.

I smiled,

“You did not leave me,” said I.

“At least, yet.”

A tear dropped,

“Please, don’t. I could not cope loneliness,” I begged.

You stopped flickering,

Did you get my message?

But I was still afraid,

all you gave me was silence.

“I could not cope loneliness, please,” I repeated.

“Then come,” you said, with a hand lending toward me.

I reached for you, smiling,

Even my tears stopped flowing,

And my dilemmas fled,

For I was freed—by you.

I left my window,

To travel the sky with you,

Your friends flickered, too,

I was, for once, happy,

Since I will face sorrow no more, as I am in your embrace forevermore.

08.06.16

Tonight was the national dark sky night to reduce light pollution, but still, no one tried, then nothing showed up. But a single star made me happy, it gave me hope.

Aku & Saya

[1]

Menantang garang,

Mata gadis

Yang berhembalang.

 

[2]

Menatap Paduka,

Pada payon

Bersemayam tawon.

 

[3]

Dengan pincang

Dan rompang

Gadis berjuang.

 

[4]

Pengawal, Pengawal!

Cicit Paduka

Yang gelisah.

 

[5]

Tuhan, Tuhan

Gusti Allah

Ironi salah