Ia Pulang,

Setelah lama pergi, ia pun kembali pulang.

Ia membuatku ingat. Apa kamu ingat?

Waktu itu saat aku masih milikmu dan kamu tetap bukan milikku, menulis bagiku tak ada beda dengan bernafas. Tiap embusan yang kuperhitungkan lahir karenamu. Huruf-huruf yang berbaris kusebarkan biar terserak begitu saja. Lalu dengan dimandori perasaanku, mereka mengatur diri-diri mereka sendiri. Mereka tuliskan buatku puisi untukmu dan tentangmu. Puluhan, mungkin ratusan, tak heran kalau sampai ribuan.

Tak kusangka-sangka ia kembali pulang. Aku kaget bukan main. Tak ada kabar maupun berita, tentang kepulangannya yang tiba-tiba. Sumpah, semua juga bukan disengaja! Awalnya aku teringat pada sebuah kata tua. Si tua yang lama tak berguna tapi begitu akrab di telinga. Lalu petang tadi ia perlahan-lahan merangkak pulang:

Ia, perasaan lama untukmu yang kukira telah kutenggelamkan (pada namamu), pulang kepadaku.

Aku menangis sedikit.

Kubaca tulisan-tulisan lamaku tentangmu, ketika aku kasmaran dulu. Ah, cinta muda.

Lalu aku menangis banyak.

Aku menangis dan menulis. Menulis ini.

Kalau kamu, sudah pasti dan absolut tak akan pernah menjadi milikku. Tapi aku,

dengan kepulangannya…

Apa aku akan mampu mengusirnya pergi untuk selamanya?

Advertisements

Ke Mana Kereta Hari Ini?

            Setelah dua cangkir teh kemanisan, sepiring nasi kentang balado, dan sepotong pisang goreng dingin habis, baru aku pamit. Perut telah kenyang makanya aku rela pulang. “Tante, maaf ngerepotin, ya,” kataku basa-basi sambal salim dan berjalan keluar gerbang. Kata tante, karena sedang ada kawinan, tukang ojek tidak bisa masuk gang. Harus keluar melewati palang ke pangkalan ojek di bawah pohon mangga dekat gapura masjid. Di sana ojek pesananku sudah menunggu, lumayan lama katanya. Tapi tak apa, si bapak bilang, “namanya juga banting tulang.” Continue reading

            Halo, bagaimana kabarmu? Kabar baik bagiku, kalau kamu mau peduli.

            Terakhir kita bersua telah lama sekali. Yang aku ingat kita duduk bersebelahan, aku makan ayam sambil ngobrol denganmu sama teman-teman yang lain juga. Aku tertawa karena yang kamu bicarakan itu aneh, teman-teman juga bilang padaku kalau kamu orang aneh. Tapi karena aku juga aneh, jadi tidak apa-apa…


Drabble yang saya kirim lewat surel pada tanggal 1 Agustus 2017. Surel itu akan saya hapus setelah ini.

Puisi Kesatu Untukmu

Ini puisiku yang pertama
Buatmu di terakhir Januari:

Esok telah beda hari,
Berarti pertemuan kaku tak menentu milik kita
Akan kembali terjadi

Telah kusampaikan pada bung kala, “Jangan kau terlalu berapi-api, Bung,
Mengejar-ngejar kami agar lebih segera
Menghirup lagi asap rokok terkutuk
Yang tak lama akan punah (semoga)
Yang sejalan dengan runtuhnya bangunan tempat aku jatuh cinta padanya dulu.”

Tenang, sayang,
Akan dibangunkan kembali yang lebih megah dan asri
Untuk kita berdua dan semua
Walau tak akan sama ー sebab hanya di tempat lama mata kita sering berjumpa;
Sebab hanya di tempat lama jantungku melompat tiap hadirmu ada

Tapi siapa tahu saja, pada kerucut yang baru,
Kita tak hanya pandang mata namun juga saling jatuh cinta.


Karena Kantin Sastra sedang direnovasi dan yang baru tidak akan sama.

Woro-Woro untuk Para Durjana

Ah, brengsek

Anjing,

Bangsat.

Kalau bisa peluru nyasar di kepalamu,

Sudah kueksekusi di tempat.

 

Aku boleh jelek dan gendut,

Hitam dan bacot,

Tapi apa itu berarti kamu boleh

Jadi sialan dan bajingan?

Sekali-kali jangan mikir dengan kontolmu

Sebab aku bukan perempuan-perempuanmu,

Yang diremas teteknya,

Dielus pahanya,

Atau dicium bibirnya

Dan tidak apa-apa.

Aku ini aku

Yang mungkin lemah dan manja

Tapi punya prinsip dan takhta

Takhta dan mahkota mulia

Milik seorang wanita.

Saksikanlah kerumunan orang tak kukenal,

Yang dahulu kupercaya karena begitu naif:

“Aku dan harga diriku yang mahal tak akan tunduk pada ia yang menginjak-injak perempuan.”