The Union—Part 1

“Colonel Yuri Gagarin, please head to the main office immediately. We repeat, Colonel Yuri Gagarin…”

            The woman’s voice that echoed throughout the headquarter had always been an annoyance, at least for me. It was no more than because my name was the one thing to never be mentioned. My rank maybe was the same as Yura’s, but we were not the same after all.

Continue reading

Jangan Lama-Lama

Selamat jalan, Sayang,

Jumpa kita yang barang sepotong

Akan kembali terpotong

Oleh matamu yang menyaksikan matari

Di ufuk kiri Australi,

Juga kulitmu yang tersengat api.

 

Di langit Queensland,

Apa ada wajahku?

Terkenangkah kamu?

 

Jangan berlalu lama, Sayang,

Bahwasanya aku tak kuasa menunggu

Segeralah kembali,

Agar kelak kita dapat memadu cinta

Yang telah lama kutunggu.

 

 

 

Risalah Namamu

            “Kita jangan bicara lagi.”

            Dia berkata begitu. Bagaimana? Kami baru bertemu 2 jam?

            “Mengapa?”

            Dia terdiam. Wajahnya wajah yang sama manisnya, yang kulihat dua tahun lalu. Yang kuimpikan dan dambakan selama ini. Sama juga—tanpa senyum. Mungkin ia simpan sendiri, mungkin ia lebih nyaman menyakiti semua orang dengan belati congkaknya. Mungkin juga ia sembunyikan sesuatu di balik itu. Mungkin juga… Mungkin. Aku tak pernah tahu, dan aku tahu aku tak bakal tahu.

            “Saya telah baca puisi-puisimu tentang saya.”

            “Sudah? Darimana? Bagaimana kamu tahu puisi-puisi yang kamu baca itu dari saya? Terlebih tentangmu?”

           “Ya, seorang kawan memberitahukan kepada saya. Dalam puisi-puisi itu nama saya sering sekali disebut. Kamu pernah bilang kamu menyukai nama saya.”

            “Tak berarti itu kamu. Tak ada yang menyuruh namamu sebegitu bagusnya. Namamu bukan spesifikasi akan suatu subjek tertentu, bukan kamu. Namamu itu muncul dalam KBBI. Namamu itu luas sekali artinya. Namamu dapat kupakai sebegitu seringnya dan seringpun artinya tetap bukan kamu… Saya, saya…”

            Tanpa sadar aku telah menitikan air mata. Ini adalah sebuah perpisahan, yang akupun tak inginkan. Dan tak oleh siapapun mungkin, kecuali saja oleh ia, orang yang sedang berhadapan denganku.

Ia terlihat bingung dan kelabakan. Mungkin aku perempuan pertama yang menangis depan dia. Tapi aku tidak mau menangis, menangis berarti lemah. Aku bukan perempuan lemah, air mata yang telah turun buru-buru aku seka. Lagipula aku jelek ketika menangis.

Kemudian sebelum dia bicara apa-apa lagi, aku memotongnya.

“Puisi itu bukan tentangmu.”

“Jadi benar, kamu yang tulis,” Ia menyimpulkan. “Puisi-puisimu bagus. Ada kawan saya yang juga suka menulis puisi. Saya bisa kenalkan ke kamu kalau mau.”

“Tapi kan kamu tahu, bukan kawanmu yang saya inginkan,” tepis saya.

“Kamu belum kenal dia. Dia jauh lebih ganteng, cerdas, bertalenta…”

“Aku kenal dia siapa. Dia kawanmu yang lebih ganteng, cerdas, dan bertalenta. Tapi bukan dia yang aku tulis. Bukan dia. “

“Berarti puisi-puisi itu tentangku kan?”

Aku kalah telak. Kekalahanku aku yang tuliskan sendiri di dahiku. Aku salah bicara, kata-kataku yang membunuh diriku sendiri. Sudah terlanjur, kata Ibu melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Kalau sudah basah, mending kuyup sekalian. 

“Ya memang, itu tentangmu. Perasaanku padamu, yang meluap-luap dan yang tak bisa kusampaikan itu, kutumpahkan semuanya di sini. Di lembaran-lembaran bertuliskan namamu ini.”

“Tidak adil,” kataku lagi.

“Padahal telah saya impikan mengatakan ini sendiri. Bahwa ini semua mengenaimu. Dalam mimpi saya itu, kamu tertawa. Menertawai aku yang begitu naif, lalu kita kembali jalan bersama. Bergandengan tangan. Dalam mimpiku, semua yang kulakukan diam-diam ketika mencintaimu, kunyatakan semua padamu, setelah kita bersama. Bagaimana perasaanku pertama kali melihatmu, aku benci padamu sekali dulu, tapi juga kamu tak bisa keluar dari pikiranku. Betapa di kali kedua kita berdua bertemu, dalam keramaian yang sumringah, aku hanya dapat memerhatikanmu. Lalu puisi pertamaku tentangmu, yang isinya kehancuran hatiku. Yang menerka bahwa kita tak akan pernah mengenal, tak akan pernah bicara. Kita tak akan pernah bertemu lagi. Terkaan yang salah, karena nyatanya apa? Kita berbicara sekarang, berdua, bertatap mata. Lalu ketika aku bertemu lagi denganmu, di tempat yang beda, di sekolahmu, setahun setelahnya. Lalu kegundahan yang kurasakan selama dua hari hanya untuk mencoba menyapamu, sampai-sampai perutku sakit itu. Sampai pada hal yang tak tampak di mimpiku, seperti kamu yang mengenalku, dan kamu yang membenciku. Tapi… Begitupun riuh ceritaku, begitupun kompleks dan tak beraturan membuat bingung dan ngeri, di mimpiku itu, di akhir cerita kamu tetap tertawa. Kamu menertawai aku, dan kita tetap bersama.”

Bayangan ia meninggalkanku semakin dekat dan aku menangis lagi.

“Boleh saya minta sesuatu padamu, sebelum kamu pergi?” tanyaku sambil terisak.

“Tolong tertawakan saya.”

Siapa Menyalah Siapa Bersalah

Air-airnya jatuh berkat samudra yang melubangi telungkup
Telah lolos tetapi masih memberi senyum yang berkabur-kaburan
Tapi sebetulnya bukan karena bocor, air-air itu kembali jatuh
Namun berkat gerigi-gerigi duri dan gigi yang menerkam putri
Berkobar membakar jadi api
Tolonglah tolong,
Baginda bukan dewi hanya seorang putri.

Asas Mencinta Dalam Kuantitas

​Dibatas samudra yang berbeda

Tapi dinaung langit yang sama

Hanya gemintang yang tak setara

Lalu bagaimana?
Manusia yang dikotak-kotakkan jarak,

Padahal juga sama terikat

Oleh oksigen, gravitasi, lalu harkat

Dan merasa Tuhan itu ada,

Tapi tetap serat bersua
Saya nafas di sini,

Kamu tahu?

Di antara massa yang memekik di telinga,

Aku salah satunya
Ini memang cinta kedap suara

Saya sih tidak apa-apa

Cuma tolong jangan cinta lain wanita

Bikin saya sakit mata dan dada

Ini dibuat waktu saya dalam perjalanan ke sekolah (naik ojek) tahun lalu. Kebetulan sedang bongkar-bongkar folder nilai kelas 2 dan ketemu kertas bertuliskan puisi ini yang dibuat untuk pelajaran sastra Indonesia.

di Malam Habis dari Makammu

Di malam habis dari makammu,
Hujan
Begitu deras begitu halus
Mematikan sunyi yang menggalakkan rindu
Katanya aku yang sepi ini telah mati rasa
Sebab semua yang kuberi rasa telah mati pertama

Sayang, di malam habis dari makammu,
Aku merenung
Bagaimana tiada mungkin lagi
Jari-jari kita terjalin
Bibir kita berbisik
Dan mata kita bertatap

Rupamu tak pernah kurekam
Suaramu tak pernah terdengar

Tentang kita tak pernah tersiar

Kenangan tentangmu melompong
Buku yang jadi perantara

Tapi, sayang,
Di makammu aku menangis
Bila bukan cinta lalu ini apa,
Seonggok tahi yang mau mengorek luka?

Sayang, sayang,
Matiku nanti untuk jumpa kau.

Dialog Dalam Bilik-Bilik Surga

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan akan menjadikanku wanita
Agak gundah aku karenanya!
Kabar berkata, aku ini bakal jadi makhluk terjajah?

Yang bodoh dan tak terpelajar,
Budak seks dan perpelacuran,
Yang dipaksa tapi juga yang dijadikan liang dosa,
Yang diikat kasta dan mengundang murka!,
Tuhan, buatlah aku jadi laki-laki saja!

Yang bebas telanjang tanpa dihinakan,
Yang cerdas dan yang terdepan,
Tak bakal pula ada persoalan degradasi serta objektifikasi, sebab toh laki-laki yang bakal menjalankan?
Buat aku jadi laki-laki saja, Tuhan!

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan kembali tersenyum dan berkata,
“Kamu bakal jadi wanita dan mulia. Karena semua wanita itu mulia.
Mereka yang mencerca itu bukanlah Aku.
Dan semua wanita akan tetap mulia, sebagaimanapun mereka hina.
Yang hina pun akan mulia, kecuali mereka yang coba-coba jadi Aku.”

Matari dan Bulannya.

Saya membuat sebuah naskah drama untuk tugas antropologi. Awalnya dalam imaji saya terlukiskan narasi yang akan dinyanyikan oleh sinden. Tapi pada praktiknya hal itu terlalu rumit untuk anak SMA (sebetulnya mampu, tapi karena saya menunda-nunda sampai 3 minggu, maka jadi tidak mampu).

Naskah ini berceritera tentang Matahari dan Bulan. Tidak ada hubungannya dengan apa-apa, ini hanya suatu produk sastra asal-asalan yang dibuat last minute. Tidak ada kebenaran yang dijamin di sini. Tokoh-tokohnya adalah Chandra, Surya, Siwa, dan raksasa Banopati.

 

Alkisah ada suami istri berbahagia namun tak ada putra

Sang suami bernama Surya dan sang istri, si jelita Chandra

 

Chandra          : Suamiku, apakah itu yang menyebabkanmu bermuram durja?

Surya               : Istriku, apa menurutmu sesembahan kita bagi Bathara Siwa Mahakala berkekurangan?

Chandra          : Tidak sama sekali. Tiap panen bertambah, maka sesembahan pun aku tambah pula. Sebabnya Hyang Maha Kala telah begitu agung dan adil menuangkan rezeki yang melimpah ruah.

Surya               : Kukira juga begitu.

Chandra          : Apa perkaranya?

Surya               : Aku rasa kurang, Dinda. Sebab sampai detik ini pun perutmu belum juga ditiupkan ruh olehnya.

Chandra          : Ya, Kanda. Aku pun merindu hari aku dapat menimang bayi.

Surya               : Maka kalau begitu, mari.

Chandra          : Ke mana itu?

Surya               : Mengkhususkan sesaji agar dikaruniai putra atau putri.

 

Beranjaklah, menuju singgasana dewa.

Sebuah pura kecil terpendam di kaki gunung,

Sesembahan digotong

Mengagungkan sang dewa.

Hyang Batara Siwa dan Durga

Para mahakala para hyang yama

 

Setelah doa diucap, kembalilah mereka ke rumah. Dalam mimpi, Surya dan Chandra bertatap muka dengan Siwa. Titahnya, 

Siwa                : Wahai kau manusia sepasang, pergilah kalian ke istana Banopati di sebelah ufuk timur tempat gunung menjuntai. Daripadanya akan kalian bawa kepadaku mustika merah menyala-nyala. Persembahkanlah kepada puraku. Mustika merah menyala, dan bukan yang lainnya lagi.

 

Lalu bergegaslah mereka ke Istana Banopati yang jauh. 3 hari 3 malam mereka berjalan, hingga sebuah tubuh menjulang tinggi mencegah,

Banopati         : mau apa kalian datang kemari.

C & S              : Diperintah Hyang Batara Kala melalui mimpi, Prabu.

Banopati         : Apa yang kau kehendaki?

Surya               : Mustika merah menyala kepunyaan prabu seorang.

Banopati         : Ya, masuklah dan ambil mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi.

C & S              : Baik, Prabu.

 

Sembari menjajak masuk, Surya dan Chandra terheran-heran akan mengapa sampai Hyang Mahakala dan Banopati mewanti-wanti. Nyatanya, yang mengejutkan adalah yang mereka saksikan.

Surya               : Istriku, ribuan jumlah harta ini! Bila kita ambil serauk atau dua, tidakkanlah kurang kekayaan Banopati!

Chandra          : Titah Dewa hanyalah mustika merah menyala, Kanda, dan bukan yang lainnya lagi. Nah itu, melompatlah engkau dan raihlah mustika di atas kita, tubuhku terlalu kecil untuk menggapainya.

Pada lompatan pertama, mustika merah menyala yang ada di tengah-tengah Istana itu tergapai.

Chandra          : Dengan ini akan kita miliki seorang anak, Kanda!

Surya               : Tapi, mari ambil sedikit saja. Bila kita kaya, maka anak-anak kita juga akan berbahagia, makan kita akan cukup, dan hidup kita bakal makmur.

Namun jangankan serauk, baru sebatang emas yang disentuh, istana itu bergetar seperti mau terbelah. Mustika itu makin menyala-nyala, jadi panas bahkan.

Banopati         : Bukan kubilang mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi?

C & S              : Ampun, Prabu. Sembah ampun.

Banopati         : Ampunmu terlambat, manusia. Jadilah yang laki-laki matari, dan yang perempuan bulan. Berkejar-kejaranlah kalian supaya bertemu, namun percuma.

Sinar mustika melahap habis Surya, menjadikannya sinar itu sendiri. Sementara kecantikan Chandra lenyap, sebab ditelan malam kelam.