di Malam Habis dari Makammu

Di malam habis dari makammu,
Hujan
Begitu deras begitu halus
Mematikan sunyi yang menggalakkan rindu
Katanya aku yang sepi ini telah mati rasa
Sebab semua yang kuberi rasa telah mati pertama

Sayang, di malam habis dari makammu,
Aku merenung
Bagaimana tiada mungkin lagi
Jari-jari kita terjalin
Bibir kita berbisik
Dan mata kita bertatap

Rupamu tak pernah kurekam
Suaramu tak pernah terdengar

Tentang kita tak pernah tersiar

Kenangan tentangmu melompong
Buku yang jadi perantara

Tapi, sayang,
Di makammu aku menangis
Bila bukan cinta lalu ini apa,
Seonggok tahi yang mau mengorek luka?

Sayang, sayang,
Matiku nanti untuk jumpa kau.

Dialog Dalam Bilik-Bilik Surga

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan akan menjadikanku wanita
Agak gundah aku karenanya!
Kabar berkata, aku ini bakal jadi makhluk terjajah?

Yang bodoh dan tak terpelajar,
Budak seks dan perpelacuran,
Yang dipaksa tapi juga yang dijadikan liang dosa,
Yang diikat kasta dan mengundang murka!,
Tuhan, buatlah aku jadi laki-laki saja!

Yang bebas telanjang tanpa dihinakan,
Yang cerdas dan yang terdepan,
Tak bakal pula ada persoalan degradasi serta objektifikasi, sebab toh laki-laki yang bakal menjalankan?
Buat aku jadi laki-laki saja, Tuhan!

Dalam bilik-bilik surga,
Tuhan kembali tersenyum dan berkata,
“Kamu bakal jadi wanita dan mulia. Karena semua wanita itu mulia.
Mereka yang mencerca itu bukanlah Aku.
Dan semua wanita akan tetap mulia, sebagaimanapun mereka hina.
Yang hina pun akan mulia, kecuali mereka yang coba-coba jadi Aku.”

Matari dan Bulannya.

Saya membuat sebuah naskah drama untuk tugas antropologi. Awalnya dalam imaji saya terlukiskan narasi yang akan dinyanyikan oleh sinden. Tapi pada praktiknya hal itu terlalu rumit untuk anak SMA (sebetulnya mampu, tapi karena saya menunda-nunda sampai 3 minggu, maka jadi tidak mampu).

Naskah ini berceritera tentang Matahari dan Bulan. Tidak ada hubungannya dengan apa-apa, ini hanya suatu produk sastra asal-asalan yang dibuat last minute. Tidak ada kebenaran yang dijamin di sini. Tokoh-tokohnya adalah Chandra, Surya, Siwa, dan raksasa Banopati.

 

Alkisah ada suami istri berbahagia namun tak ada putra

Sang suami bernama Surya dan sang istri, si jelita Chandra

 

Chandra          : Suamiku, apakah itu yang menyebabkanmu bermuram durja?

Surya               : Istriku, apa menurutmu sesembahan kita bagi Bathara Siwa Mahakala berkekurangan?

Chandra          : Tidak sama sekali. Tiap panen bertambah, maka sesembahan pun aku tambah pula. Sebabnya Hyang Maha Kala telah begitu agung dan adil menuangkan rezeki yang melimpah ruah.

Surya               : Kukira juga begitu.

Chandra          : Apa perkaranya?

Surya               : Aku rasa kurang, Dinda. Sebab sampai detik ini pun perutmu belum juga ditiupkan ruh olehnya.

Chandra          : Ya, Kanda. Aku pun merindu hari aku dapat menimang bayi.

Surya               : Maka kalau begitu, mari.

Chandra          : Ke mana itu?

Surya               : Mengkhususkan sesaji agar dikaruniai putra atau putri.

 

Beranjaklah, menuju singgasana dewa.

Sebuah pura kecil terpendam di kaki gunung,

Sesembahan digotong

Mengagungkan sang dewa.

Hyang Batara Siwa dan Durga

Para mahakala para hyang yama

 

Setelah doa diucap, kembalilah mereka ke rumah. Dalam mimpi, Surya dan Chandra bertatap muka dengan Siwa. Titahnya, 

Siwa                : Wahai kau manusia sepasang, pergilah kalian ke istana Banopati di sebelah ufuk timur tempat gunung menjuntai. Daripadanya akan kalian bawa kepadaku mustika merah menyala-nyala. Persembahkanlah kepada puraku. Mustika merah menyala, dan bukan yang lainnya lagi.

 

Lalu bergegaslah mereka ke Istana Banopati yang jauh. 3 hari 3 malam mereka berjalan, hingga sebuah tubuh menjulang tinggi mencegah,

Banopati         : mau apa kalian datang kemari.

C & S              : Diperintah Hyang Batara Kala melalui mimpi, Prabu.

Banopati         : Apa yang kau kehendaki?

Surya               : Mustika merah menyala kepunyaan prabu seorang.

Banopati         : Ya, masuklah dan ambil mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi.

C & S              : Baik, Prabu.

 

Sembari menjajak masuk, Surya dan Chandra terheran-heran akan mengapa sampai Hyang Mahakala dan Banopati mewanti-wanti. Nyatanya, yang mengejutkan adalah yang mereka saksikan.

Surya               : Istriku, ribuan jumlah harta ini! Bila kita ambil serauk atau dua, tidakkanlah kurang kekayaan Banopati!

Chandra          : Titah Dewa hanyalah mustika merah menyala, Kanda, dan bukan yang lainnya lagi. Nah itu, melompatlah engkau dan raihlah mustika di atas kita, tubuhku terlalu kecil untuk menggapainya.

Pada lompatan pertama, mustika merah menyala yang ada di tengah-tengah Istana itu tergapai.

Chandra          : Dengan ini akan kita miliki seorang anak, Kanda!

Surya               : Tapi, mari ambil sedikit saja. Bila kita kaya, maka anak-anak kita juga akan berbahagia, makan kita akan cukup, dan hidup kita bakal makmur.

Namun jangankan serauk, baru sebatang emas yang disentuh, istana itu bergetar seperti mau terbelah. Mustika itu makin menyala-nyala, jadi panas bahkan.

Banopati         : Bukan kubilang mustika merah menyala dan bukan yang lainnya lagi?

C & S              : Ampun, Prabu. Sembah ampun.

Banopati         : Ampunmu terlambat, manusia. Jadilah yang laki-laki matari, dan yang perempuan bulan. Berkejar-kejaranlah kalian supaya bertemu, namun percuma.

Sinar mustika melahap habis Surya, menjadikannya sinar itu sendiri. Sementara kecantikan Chandra lenyap, sebab ditelan malam kelam.

 

 

A Message for The Stars

I stood up behind my window,

looking up, eager to see you,

But you were not in sight,

Or anywhere.

Nor you,

neither your friends.

I felt lonely for a bit.

Then you showed up,

Flickering—red, white, red, white—to the same pattern.

I smiled,

“You did not leave me,” said I.

“At least, yet.”

A tear dropped,

“Please, don’t. I could not cope loneliness,” I begged.

You stopped flickering,

Did you get my message?

But I was still afraid,

all you gave me was silence.

“I could not cope loneliness, please,” I repeated.

“Then come,” you said, with a hand lending toward me.

I reached for you, smiling,

Even my tears stopped flowing,

And my dilemmas fled,

For I was freed—by you.

I left my window,

To travel the sky with you,

Your friends flickered, too,

I was, for once, happy,

Since I will face sorrow no more, as I am in your embrace forevermore.

08.06.16

Tonight was the national dark sky night to reduce light pollution, but still, no one tried, then nothing showed up. But a single star made me happy, it gave me hope.

Aku & Saya

[1]

Menantang garang,

Mata gadis

Yang berhembalang.

 

[2]

Menatap Paduka,

Pada payon

Bersemayam tawon.

 

[3]

Dengan pincang

Dan rompang

Gadis berjuang.

 

[4]

Pengawal, Pengawal!

Cicit Paduka

Yang gelisah.

 

[5]

Tuhan, Tuhan

Gusti Allah

Ironi salah